Tampilkan postingan dengan label Artikel Batik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Batik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

Pemprov Jateng Kembangkan Desain Batik

Batik Muyas - SEMARANG, (TubasMedia.Com) – Pemprov Jateng pada tahun ini akan fokus pada pengembangan desain batik lokal guna meningkatkan daya saing dan mendongkrak ekpor komoditas tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng Ihwan Sudrajat mengatakan saat ini banyak bermunculan batik dari Madura, Cirebon dan sejumlah daerah lain dengan ciri khas tertentu.

Untuk itu, lanjutnya guna meningkatkan daya saing batik Jateng, masing-masing kabupaten /kota harus melakukan inovasi yang berkesinambungan dalam mengambangkan desain batik, khususnya dari sisi motif dan pewarnaan.

Menurut dia dibutuhkan apresiasi dari masing-masing daerah dengan ciri khasnya sendiri, sebagian besar corak batik berasal dari kultur lokal berupa tumbuh-tumbuhan yang terdapat di daerah tersebut.

“Pengembangan desain akan menjadi orientasi utama di 2012 ini dalam upaya mendongkrak daya saing produk, menyusul bermunculannya batik-batik dari sejumlah daerah,” katanya, Kamis 12 Januari.

Setelah pengembangan desain, fokus pemerintah selanjutnya dalam mengembangkan batik ini yaitu program-program yang bertujuan meningkatkan nilai tambah. Ikhwan menuturkan progres-progres tersebut akan dilakukan secara bertahap, yang pada akhirnya akan lebih fokus pada peningkatan produksi.

Saat ini, di Jateng yang terkenal ada batik Solo, batik Pekalongan dan batik Lasem yang telah memiliki pasar di kancah internasional. Selain itu, terdapat juga batik Semarangan, dan Banjar yang kini terus dikembangkan untuk orientasi ekspor.

Potensi batik Jateng masih bisa dioptimalkan mengingat kontribusinya terhadap ekspor batik nasional masih sekitar 15%. “Kalau cacatan dari pusat, ekspor batik pada 2010 mencapai US$59 juta, sementara Jateng hanya sekitar US$17 juta. Potensi ini masih bisa dioptimalkan mengingat masing-masing daerah di provinsi ini memiliki motif batik,” tuturnya. (red)

Manjakan Turis Asing dengan Batik Tulis Berkualitas

Batik Muyas - MAKAN siang di penghujung tahun lalu dengan Presiden Direktur Philips Indonesia Robert Fletcher dan Philips Head of Communications Region Asia Pacific Arent Jan Hesselink memang meninggalkan kesan. Paling tidak buat buat saya dan beberapa rekan wartawan dari beberapa media terpilih. Apalagi, tatkala AJ, sapaan akrab Arent Jan Hesselink yang Wong Londo atau orang Belanda itu, berkomentar tentang motif kemeja batik yang dikenakan bosnya. "Motif batik itu apa ya?" begitu pertanyaan AJ yang pastinya tak berhasil mendapat jawaban pas dari kami.

Meski menangani wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, AJ lebih banyak tinggal di Singapura. Makanya, AJ mengaku belum memunyai pengetahuan mendalam soal batik.
Perlu adanya penjelasan soal motif batik tulis yang tertempel pada label yang disertakan di tiap lembar kain batik tulis. Menjadi lebih baik kalau penjelasan dibuat juga dalam Bahasa Inggris.

Hal sebaliknya, dialami Robert Fletcher. Ia sudah lima tahunan tinggal di Indonesia. "Saya memakai batik kalau ada pertemuan-pertemuan seperti ini," kata pria yang akrab dipanggil Rob tersebut.
Batik yang mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda dari UNESCO sejak 2009 silam adalah teknik pewarnaan kain menggunakan malam (semacam lilin) untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Khazanah internasional mengenal teknik ini sebagai wax resist dyeing.

Boleh dibilang, pengakuan UNESCO itu benar-benar membawa berkah. Catatan saat World Batik Summit 2011 di Jakarta Convention Center pada 28 September hingga 2 Oktober tahun lalu menunjukkan kalau penjualan batik terkait sektor pariwisata menembus angka Rp 1 triliun. Menteri Kebudayaan Pariwisata waktu itu, Jero Wacik, mengakui angka tersebut.

Namun, berangkat dari obrolan ringan di atas, banyak wisatawan asing alias turis bule masih belum banyak memiliki pengetahuan memadai soal batik. Dengan kata lain, acap, batik menjadi kawasan antah-berantah.

Paling simpel, bagai kebanyakan orang asing macam AJ, begitu beragam motif batik. Namun, mereka tak tahu, bahkan, nama, asal-usul, hingga orisinalitas pewarnaan.

Tak hanya itu, batik, bagi sementara kalangan turis mancanegara yang benar-benar awam, makin menjadi ruang teramat luas gara-gara kain bermotif batik atau yang lazim dikenal sebagai batik printing bermunculan di mana-mana. Dominasi industrialisasi, baik lokal maupun asing, membuat batik justru mendapat pesaing dari dunia pertekstilan. "Batik printing bukan batik," tegas pelaku usaha Batik Handayani asal Desa Beluk, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, T.S. Goenarto.

Cerita

Beragamnya motif batik memang berangkat dari kekayaan lokal. Biasanya, kekayaan berikut keanekaragaman yang dekat dengan para pembatik itu sendiri. Menurut Goenarto, beberapa motif batik tulis seperti Ganggang Kukup, Iwak Rowo, Teratai Jombor, Kipas Pandanaran, dan Jagad Mbogem, berasal dari lokasi pariwisata di kawasan Kecamatan Bayat.

Motif Iwak Rowo dan Teratai Jombor asal-muasalnya dari ikan dan teratai yang berada di Rawa Jombor. Rawa tersebut menjadi lokasi pariwisata setempat.

Hal sama juga terdapat pada motif Kipas Pandanaran. Pembatik melukiskan kebiasaan pedagang kipas yang menjajakan barang dagangannya di kompleks makam Ki Ageng Pandanaran, masih di Kecamatan Bayat.

Bayangkan, andai wisatawan mancanegara yang berniat membeli kain batik tersebut tidak memperoleh informasi memadai soal motif pada kain tersebut! Yang terjadi adalah kondisi bak membeli kucing dalam karung. Meski, kualitas kain dan pewarnaan batik tulis bersangkutan termasuk bagus.

Maka dari itulah, kebutuhan akan pentingnya sepotong informasi soal motif tersebut lama-kelamaan makin mendesak. "Turis asing memang suka bertanya soal kisah motif batik yang akan mereka beli," kata Direktur Rumah Batik dan Kerajinan Indonesia Pendopo Meutia Kumala dalam kesempatan wawancara beberapa waktu lalu.

Meutia, lebih lanjut, menyambut baik adanya sebentuk penjelasan yang tertempel pada label yang disertakan di tiap lembar kain batik tulis. Dengan cara itu, ada cerita yang bisa memberikan penjelasan kepada turis mencanegara, khususnya. Menjadi lebih baik kalau penjelasan dibuat juga dalam Bahasa Inggris. Sehingga, kolaborasi antara motif batik dengan cerita soal motif batik akan klop rasanya dengan pemeo "makin kenal makin makin sayang".

Selanjutnya, dalam pengamatan Meutia, turis asing juga memerlukan semacam jaminan soal orisinalitas pewarnaan batik. Menurutnya, bahkan sampai kini, tak cuma orang asing yang acap terkecoh pada tampilan warna batik. Pewarnaan batik dengan bahan alami seperti kulit mahoni, rempah-rempah, kulit buah manggis, dan lain sebagainya justru terlihat kusam dan tak bercahaya.

Sebaliknya, pewarnaan batik dengan bahan kimia menampilkan warna yang cenderung tampak cerah. "Masih banyak yang menganggap kalau yang tampilannya kusam justru tidak asli," kata Marketing Director Omnimedia Citraglobal Yenny N Petrus yang berkecimpung dalam bisnis suvenir, termasuk batik.
Untuk soal orisinalitas, batik dengan pewarnaan alami juga mesti lengkap dengan label jaminan. "Dengan begitu, tak hanya pembeli lokal, turis asing pun bisa mendapatkan kepastian mendapatkan barang yang asli dan berkualitas," demikian Yenny N Petrus.  

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/01/16/15433414/Manjakan.Turis.Asing.dengan.Batik.Tulis.Berkualitas

2012, Mari ke Solo!

Batik Muyas - Pemerintah kota Surakarta akan mempromosikan kota Solo melalui pendekatan promotional event dengan menggelar sekitar 47 acara tahun ini. Jumlahnya meningkat dibandingkan tahun lalu, yang jumlahnya sebanyak 32 acara. Mulai pertengahan Januari hingga 31 Desember event-event tersebut digelar. Salah satu yang sudah dilangsungkan adalah Grebeg Sudiro di Kawasan Pasar Gede, Minggu (15/1).

Bulan Juni-Oktober 2012 menjadi waktu tersibuk dalam pagelaran event. Sebagai panduan bagi masyarakat akan disebarkan Calendar of Cultural Event Solo 2012. Aryo Widyandoko selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kota Surkarta mengatakan bahwa untuk penyusunan kalender event pihaknya bekerja sama dengan Konsultan Komunikasi dan Kebijakan Publik, Anggit Noegroho.

Seperti tahun sebelumnya akan dilangsungkan pula even bertaraf internaisonal, seperti Solo Internasional Ethnic Music (SIEM), Solo Internasional Performing Art (SIPA), dan Solo Batik Carnival (SBC). Sedangkan penyelenggaraan konferensi internasional, di antaranya Asia Pacific Historian Conference (Mei 2010), Federation for Asian Cultural Promotion Conference (September), dan Solo Investation Tourism Trade Expo (SITTEX) (Oktober 2012).

Serangkaian event yang dijadwalkan antara lain International Tea Festival, Solo Keroncong Festival, KREASSO (Kreatif Anak Sekolah Solo), Gunungan Charity Boat Race, Solo Batik Fashion, Festival Kethoprak, Solo Carnival, Pesona Balakembang, Solo Menari, Kemah Budaya, Solo Kampong Art, Festival Dolanan Bocah, dan Javanese Theatrical (Bakdan ing Balekambang).

Akan disajikan pula Tradisi keraton dalam event budaya, yakni Sekaten, Grebeg Mulud, Mahesa Lawung, Mangkunegaran Performing Art, Keraton Art Festival, Tingalan Jumenengan Dalem ke-7 ISKS XIII, Malem Selikuran, Grebeg Poso, Grebeg Pangan, Grebeg Besar, Kirab Malam 1 Sura dan Wiyosan Jumenengan SP KGPAA Mangkoe Nagoro IX.

Semua masyarakat berkesempatan menikmati semua pelaksanaan event. Meski sebagian besar perolehan dana untuk event didapat dari pihak sponsor, pemerintah kota Surakarta juga ikut membantu proses pembiayaan. (MED/Ezz)

Sumber : http://www.rileks.com/details/1331/2012-mari-ke-solo-

Pemprov Jateng Kembangkan Desain Batik

SEMARANG, (Batik Muyas) Pemprov Jateng pada tahun ini akan fokus pada pengembangan desain batik lokal guna meningkatkan daya saing dan mendongkrak ekpor komoditas tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng Ihwan Sudrajat mengatakan saat ini banyak bermunculan batik dari Madura, Cirebon dan sejumlah daerah lain dengan ciri khas tertentu.

Untuk itu, lanjutnya guna meningkatkan daya saing batik Jateng, masing-masing kabupaten /kota harus melakukan inovasi yang berkesinambungan dalam mengambangkan desain batik, khususnya dari sisi motif dan pewarnaan.

Menurut dia dibutuhkan apresiasi dari masing-masing daerah dengan ciri khasnya sendiri, sebagian besar corak batik berasal dari kultur lokal berupa tumbuh-tumbuhan yang terdapat di daerah tersebut.

�Pengembangan desain akan menjadi orientasi utama di 2012 ini dalam upaya mendongkrak daya saing produk, menyusul bermunculannya batik-batik dari sejumlah daerah,� katanya, Kamis 12 Januari.

Setelah pengembangan desain, fokus pemerintah selanjutnya dalam mengambangkan batik ini yaitu program-program yang bertujuan meningkatkan nilai tambah. Ikhwan menuturkan progres-progres tersebut akan dilakukan secara bertahap, yang pada akhirnya akan lebih fokus pada peningkatan produksi.

Saat ini, di Jateng yang terkenal ada batik Solo, Pekalongan dan Lasem yang telah memiliki pasar di kancah internasional. Selain itu, terdapat juga batik Semarangan, dan Banjar yang kini terus dikembangkan untuk orientasi ekspor.

Potensi batik Jateng masih bisa dioptimalkan mengingat kontribusinya terhadap ekspor batik nasional masih sekitar 15%. �Kalau cacatan dari pusat, ekspor batik pada 2010 mencapai US$59 juta, sementara Jateng hanya sekitar US$17 juta. Potensi ini masih bisa dioptimalkan mengingat masing-masing daerah di provinsi ini memiliki motif batik,� tuturnya. (red)

Sumber : http://www.tubasmedia.com/berita/pemprov-jateng-kembangkan-desain-batik/

Berlenggok Pakai Batik, Atalarik & Fedi Nuril Bikin Heboh

Batik Muyas - PARAS tampan dipadu dengan bodi kekar yang dimiliki Atalarik Syah, Fedi Nuril dan Mario Kahitna membuat kehebohan saat show Alleira digelar. Seperti apa histerianya?

Mewakili representasi pria urban, ketiga pria tampan tersebut turut meramaikan launching lini batik pria dari Allure. Pada kesempatan itu, ketiganya membawakan kemeja batik trendi yang kental dengan nuansa urban.

Dalam lima sekuel yang mereka lewatkan, ketiganya yang juga ditemani para model pria lainnya membawakan busana batik dengan model yang sangat variatif. Mulai dari kemeja berlengan panjang hingga pendek, berkerah shanghai hingga berkerah biasa, dan dari berpadu dengan bawahan jins hingga kain lilit yang dipakai sedengkul. Sebuah suguhan yang manis dan inspiratif bagi pria dalam berbusana batik.

Tak heran dengan pesona tersebut yang ditampilkannya dalam launching Alleira's Slim Fit Men Shirt di butiknya di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (19/1/2012), membuat para tamu undangan yang didominasi wanita tersebut histeris.

Sejak awal show dimulai, acapkali ketiga pria ganteng tersebut melintas di red carpet yang juga menjadi catwalk tersebut, para wanita yang memenuhi butik itu jejeritan sambil menggerakkan tangan menjepretkan kamera ke arah wajah para pesohor.

Ya, launching itu memang ramai dihadiri para tokoh ternama. Selain ketiga artis yang turut berlenggak lenggok di catwalk, ada para istri duta besar dari negara-negara sahabat, Mien Uno, Annisa Pohan, serta para pelanggan setia Alleira.
(tty)

Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2012/01/19/29/559936/berlenggok-pakai-batik-atalarik-fedi-nuril-bikin-heboh

Batik perpaduan oriental sambut Imlek

Semarang (Batik Muyas) - Rumah Batik Danar Hadi Semarang meluncurkan 30 koleksi batik terbarunya dengan sentuhan oriental dalam motif desain, Selasa, untuk menyambut perayaan Imlek 2563.

Pada pergelaran busana batik bertema "Oriental Expressions" itu, koleksi yang ditampilkan menyuguhkan dominasi warna merah, kuning, maupun emas yang identik dengan pengaruh budaya China.

Pengaruh China semakin kuat dengan tampilan motif naga dan singa dipadu dengan pola-pola asimetris, meski nuansa tradisional tidak lantas ditinggalkan, seperti motif jumputan dan lereng.

Menurut Pimpinan Cabang Batik Danar Hadi Semarang Mira Fastiany di sela pergelaran itu, koleksi terbaru yang diluncurkan itu memang menyasar konsumen warga keturunan Tionghoa yang merayakan Imlek.

"Selama ini, ada juga kalangan warga keturunan Tionghoa yang gemar mengenakan batik. Kami akomodasi dengan koleksi batik terbaru dengan paduan oriental, apalagi sebentar lagi perayaan Imlek," katanya.

Ia menjelaskan, pemberian warna-warna segar, seperti merah, kuning, dan emas yang mendominasi juga membuat kesan lebih segar, di samping warna-warna mencolok itu memang kental dengan budaya China.

Bentuk kerah seperti pada Cheongsam, busana khas masyarakat Tionghoa tidak ditelan mentah-mentah dalam desain, kata dia, namun diberi sentuhan lain di bagian leher, dengan sedikit terbuka dan dihiasi payet.

Penampilan 30 koleksi terbaru Rumah Barik Danar Hadi pada pergelaran batik itu, terbagi dalam lima "sequen" (urutan), seperti karya in house designer yang menampilkan kebaya encim dan selendang sutra.

Bahan sutra dari alat tenun bukan mesin (ATBM) karya in house designer itu membuka pergelaran, disusul koleksi busana blus yang juga berbahan sutra dan didesain untuk dikenakan dalam acara formal.

Perancang Hutama Adhi juga digandeng untuk mengkreasikan ide memadukan nuansa oriental dengan tradisionalitas dalam koleksi terbaru itu, dan perancang kenamaan Indonesia itu menampilkan enam koleksi.

Mira menambahkan, terobosan yang dilakukan Rumah Batik Danar Hadi itu tetap sejalan dengan visinya untuk terus konsisten dalam memproduksi batik siap pakai, namun tetap mempertahankan nilai dan filosofi batik.

Pergelaran busana batik itu juga diisi dengan talkshow bertema "Fengshui In The Year of The Dragon" yang menampilkan master fengshui Linda Kho.

(U.KR-ZLS/N002)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT � 2012

Sumber : http://www.antaranews.com/berita/293212/batik-perpaduan-oriental-sambut-imlek

Berjiwa Muda dengan Batik

Dwi Indah Nurcahyani - Batik Muyas

BATIK membuat tampilan pria tak sekadar tampan, tapi juga berjiwa muda. Tak heran, kaum urban di ibu kota pun semakin tergelitik mengenakan batik.

Batik memang tak pernah sepi penggemar. Meski tahun terus berganti, namun peminat batik tetap setia. Tak hanya dari kalangan wanita semata, tapi juga kaum muda yang masih bergejolak.

Bagi kaum muda, kebutuhan batik lebih bersifat kasual dan trendi. Maklumlah, usia yang masih muda serta tuntutan kehidupan mentropolitan membuat batik dengan jiwa muda sangat dibutuhkan.

Kebutuhan itu pun kemudian ditangkap Alleira dengan menyuguhkan busana dengan label Alleira's Slim Fit Men Shirt bagi para kaum urban yang masih berjiwa muda.

"Awalnya banyak yang meng-order busana batik untuk pria muda dan kosmopolitan. Mereka tidak ingin model yang gombrong, tapi slim fit," tutur Zakaria Hamzah selaku Operational Director Alleira kepada okezone di acara launching Alleira's Slim Fit Men Shirt di butik Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (18/1).

Dari sana terciptalah busana-busana batik trendi yang memang ditujukan bagi para pria urban tersebut.

Pada koleksinya kali ini, Alleira memersembahkan busana batik slim fit untuk pria dengan kolaborasi warna, motif, dan kesan sporty, casual, serta elegan khas pria urban masa kini. Warna-warna menawan seperti warna laut, senja, warna tanah, warna pepohonan hingga nuansa pegunungan yang banyak ditemukan di alam terlukis dengan indah dalam kemeja-kemeja yang disuguhkan.

Menariknya, Alleira memberikan kesempatan bagi para pria urban untuk tampil gaya dan berjiwa muda lewat batik-batik tersebut. Hal itu tergambar dengan tawaran berbusana yang dapat dipadukan dengan celana jins pendek ataupun panjang plus sepatu kasual.
(tty)

Sumber : lifestyle.okezone.com/read/2012/01/18/29/559319/berjiwa-muda-dengan-batik

Pusat Batik Internasional Akan Berdiri di Pekalongan

Batik Muyas - TEMPO.CO, Surakarta - Sebuah pusat batik internasional akan dibuka di Pekalongan, Jawa Tengah, pada awal Februari 2012 ini. Menurut Robertus Antonius, konsultan PT. Grahamandiri Managemen (pengelola pusat batik internasional), pusat batik ini didirikan sebagai wadah berbagai batik dari seluruh Indonesia.

"Kami merancangnya seperti Taman Mini (Indonesia Indah). Orang tidak perlu berkeliling Indonesia untuk tahu ragam motif batik dari berbagai daerah," jelasnya di sela road show di Surakarta, Rabu, 18 Januari 2012.

Pusat batik didirikan di Pekalongan mengingat Pekalongan sebagai salah satu kota tertua basis pembuatan batik. Lahan seluas 4 hektare dibangun menjadi 700 ruang duta atau kios penjualan batik, museum batik, tempat peragaan busana batik, pelatihan membatik, dan ruang serbaguna untuk seminar-seminar seputar batik.

Robert mengatakan saat ini baru 1,5 hektare lahan yang selesai dibangun dengan 184 ruang duta. Seluruh ruang duta masih diprioritaskan untuk pembatik dan pengusaha batik asal Pekalongan.
"Saat ini baru pembangunan tahap kedua. Nantinya ada zonasi berdasarkan asal daerah, seperti Cirebon, Solo, dan Yogyakarta," katanya.

Dia mengundang pengusaha batik dari berbagai daerah untuk bergabung dengan nilai investasi antara Rp 180-230 juta untuk satu ruang duta. "Investasi dijamin menguntungkan karena nantinya jadi hak milik," lanjutnya.

Untuk memperkenalkan pusat batik, pihaknya mengadakan road show ke berbagai daerah seperti Cirebon dan Solo. Meskipun berencana mengumpulkan batik seluruh Indonesia dalam satu lokasi, dia mengatakan tidak ada kuota khusus bagi perwakilan daerah tertentu. Dengan demikian, tergantung inisiatif pengusaha batik untuk memamerkan produknya di pusat batik.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia Solo, Eko Suprihono mendukung pendirian pusat batik di atas. Menurutnya, batik sudah menjadi ikon kerajinan dari Indonesia. Apalagi sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dari Indonesia oleh UNESCO.

"Saya kira sebuah ide yang bagus, mengumpulkan batik dari berbagai daerah di Indonesia," jelasnya. Dengan demikian, masyarakat bisa mengetahui bahwa batik tidak hanya dari Solo, Yogyakarta, atau Pekalongan. "Apalagi bila ada museum dan pelatihan membatik bagi pengunjung," tambahnya.

UKKY PRIMARTANTYO

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/01/18/177378132/Pusat-Batik-Internasional-Akan-Berdiri-di-Pekalongan

BATIK PEWARNA ALAM: Eksotis dan Ramah Lingkungan

Kerusakan lingkungan yang kian parah ikut membangkitkan kesadaran untuk membuat produk ramah lingkungan. Salah satunya batik dengan pewarna alam. Warna alam yang lembut pada batik memancarkan pesona eksotis, ramah lingkungan dan memberi kesan ketimuran.

Dengan latar belakang itulah, Surosso menggarap batik warna alam di kawasan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta sejak 2005 lalu. Mode cutting asimetris dan desain pecah pola pun dilakukan oleh Suroso alias Rosso dengan Batik Warna Alam Rosso miliknya.

Produsen batik yang menggunakan bahan baku dari kulit kayu, daging kayu dan daun-daunan untuk dasar pewarnaan batiknya ini membuat busana siap pakai dengan teknik jumputan maupun batik cap. Hasilnya warna-warna natural seperti cokelat, kuning, pink pucat, hijau muda, abu-abu dan ungu tampil lebih elegan dengan sentuhan batik cap atau teknik pewarnaan alami.

"Agar warna tak mudah luntur, kami mengunci warna dengan tawas dan kapur," kata Suroso, yang juga merancang busana ready to wear. Untuk memberi aksen pada busana batik warna alam, Rosso memberi aksen lurik dari Pedan, Klaten. Dia juga memberikan detail origami, obi, aplikasi payet dan detail bervolume pada lengan maupun krah. Hasil rancangannya pun terlihat diperagakan pada acara Jogja Fashion Tendance dan Jakarta Fashion Week November 2011 lalu. "Untuk memberi nilai lebih pada batik warna alam, dia membuat desain baju dengan cutting yang unik dan aplikasi yang serasi," lanjut Rosso.

Hal tersebut juga dilakukan oleh Batik Mahkota Laweyan yang berlokasi di kawasan Kampung Batik Laweyan Solo. Namun gerai ini masih fokus memproduksi kain batik warna alam dan belum bermain di desain bajunya. "Kami menggunakan warna alam dari gambir, kayu tingi, indigo, serbuk tegeran dan kayu secang," kata Alpha Febella Priyatmono, sang pemilik.

Untuk menampilkan warna yang lebih cerah, sambungnya, dia membuat variasi warna dari bahan alam dan membubuhkan sedikit pewarna kimia pada motif. "Namun ada juga yang murni menggunakan warna alam, seperti batik warna alam dari kayu tingi, gambir dan indigo." Untuk motif, Batik Mahkota Laweyan mempertahankan motif klasik dan sebagian motif kontemporer.

Diakui Alpha, dia baru satu tahun merintis produksi batik warna alam, namun dia siap memberikan workshop dan wisata batik warna alam di Kampung Batik Laweyan pada tahun ini. "Saat ini sudah ada lima titik di Kampung Batik Laweyan yang mengerjakan batik warna alam, di antaranya Batik Pulau Jawa, Batik Lor Ing Pasar, Batik Catleya, Batik Aryu dan Batik Mahkota," jelas Alpha yang juga Koordinator Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan itu.

JIBI/SOLOPOS/Eri Maryana

Sumber : http://www.solopos.com/2012/lifestyle/belanja/batik-pewarna-alam-eksotis-dan-ramah-lingkungan-156965

Selasa, 17 Januari 2012

Batik Mega Mendung di London Fashion Week

Batik Muyas - VIVAnews, Batik Mega Mendung! Mungkin itu yang spontan terlintas saat menyaksikan corak menyerupai awan berarak-arak di langit, yang melekat pada penampilan sejumlah model di London Fashion Week kali ini.
Mega Mendung - London Fashion Week
Corak batik khas Cirebon itu mewujud melalui kreasi Julien Macdonald yang memainkan gradasi warna biru di atas lembar kain putih. Menguatkan karakter yang ia bangun lewat serangkaian koleksi spring summer 2012: halter dress, setelan tuxedo jackets, waistcoat dresses, dan topi ala militer.
Julien tidak menyebut corak tersebut sebagai Mega Mendung. Ia hanya mengatakan bahwa kreasinya terinspirasi dari desain tato cetak Asia, yang ia sebut sebagai tato naga. “Aku ingin mengajak orang-orang yang menikmati karya saya sedikit berkelana ke Asia,” katanya, seperti dikutip dari vogue.com.
Pikiran Julian tampaknya melayang ke China saat menyebut sentuhan Asia pada karyanya. Mungkin ada benarnya. Menilik sejarah batik Mega Mendung memang selalu mengarah pada kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon di masa lalu. Menurut filosofi China, awan melambangkan dunia atas yang merupakan gambaran dunia luas, bebas, dan transidental.
Tak hanya memikat Julien. Corak Mega Mendung juga pernah dijadikan cover sebuah buku batik terbitan luar negeri berjudul ‘Batik Design‘, karya seorang berkebangsaan Belanda bernama Pepin van Roojen. (adi)

Senin, 16 Januari 2012

Mahasiswa Undip Promosikan Batik di ‘Sidang PBB’

Batik Muyas - REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Universitas Diponegoro (Undip) Semarang akan mengirim delegasi ke ajang Harvard National Model United Nation (HNMUN) pada 13 Februari 2012 mendatang di Amerika Serikat. Ajang tersebut merupakan program untuk memperkenalkan kepada mahasiswa dari sejumlah negara mengenai mekanisme persidangan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Delegasi Indonesia akan memanfaatkan ajang tersebut untuk mempromosikan Batik sebagai warisan dunia. Penyelenggaraan HNMUN akan digelar pada 16-19 Februari 2012.

“Kami akan mengenakan batik dalam ajang simulasi itu. Setidaknya bisa membantu mempromosikan warisan budaya leluhur,” kata Michael Laurent, salah satu delegasi Undip dalam HNMUN 2012, di Semarang, Senin (16/1).

Ajang HNMUN 2012 diikuti perwakilan perguruan tinggi dari 35 negara.Namun ajang itu mensyaratkan setiap delegasi tidak diperbolehkan mewakili negara asalnya, seperti Undip yang pada ajang itu ditunjuk mewakili Kirgistan.

Michael mengakui, tidak diperbolehkannya delegasi mewakili negara asal itu memang dimaksudkan menjaga objektivitas kajian permasalahan yang akan diangkat, sekaligus mendorong empati sesama warga negara.

Meski ‘tidak mewakili’ Indonesia, Michael mengatakan, akan menyiasatinya dengan kesepakatan seluruh delegasi Undip untuk mengenakan batik dalam setiap simulasi sidang yang terbagi dalam sembilan komite itu.

Delegasi yang dikirim berjumlah 15 orang, yakni Faizal Fajar Nurroji, Erlangga Kristanto, Banun Diyah, Teguh Iman Prastyo, Ayu Hapsari Aditiyanti, Friska Finalia, Rosiana Irta, Aji Bramantyoaji, Michael Laurent, Finta Elvira, Risti Merdikawati, Astrid Karina Putri, Husein Ahmad, Nydia Rena Benita, dan Fadel Muhammad Garishah .

Michael menambahkan, pada ajang HNMUN juga digelar pergelaran “culture night” yang bisa dimanfaatkan setiap delegasi untuk mengenalkan dan mempromosikan berbagai potensi unggulan yang dimiliki negaranya, termasuk Indonesia.Selain Undip, delegasi Indonesia juga akan diwakili UI, ITB, dan Unpad.
Redaktur: Ramdhan Muhaimin

Sumber: Antara

Senin, 12 Desember 2011

Modal Nekat, Raup Untung dari Batik Lawasan

Batik Muyas - KOMPAS.com, Sebagai orang Bali, darah seni Dayu Jiwa nampaknya sudah mengalir sejak kecil. Namun sayangnya ia memutuskan untuk melanjutkan usaha keluarganya untuk mengurus restoran Hydepark Corner di Sanur. “Pada suatu ketika saya mulai tertarik dengan batik, karena ada teman saya dari Inggris yang menantang saya untuk kenal lebih jauh dengan batik,” tukas Dayu kepada Kompas Female, saat acara Katumbiri Expo di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (7/12/2011) lalu.

Dayu JiwaMerasa tertantang untuk mengenal batik asli, atas anjuran temannya Dayu lantas menuju ke desa Kerek di Jawa Timur pada tahun 2003. “Saya pergi sendirian, bermodal nekat untuk belajar membuat batik,” tukasnya. Nasib baik berpihak padanya, karena secara kebetulan ia bertemu dengan seorang pengrajin batik yang baik. Dalam waktu dua minggu, Dayu akhirnya menguasai teknik membatik dengan baik.

Sebagai orang Bali, Dayu pun berpikir untuk membuat kreasi batik tulis yang menonjolkan ciri khas Bali. “Sulit untuk membuat motif khas Bali, dan saya bingung karena semua motifnya sudah ada. Akhirnya saya pun memodifikasi motif yang sudah ada,” bebernya.

Dayu mengaku bahwa awalnya ia sempat mendapat pertentangan dari “guru-guru” batiknya karena motif batiknya dianggap menyalahi pakem yang ada. Dayu sendiri mengganggap bahwa aliran yang digunakannya adalah aliran surealisme, dimana ia memodifikasi motif naga yang sudah ada menjadi sedikit berbeda. Ia membuat motif naga itu tampil lebih panjang dan sedikit berbeda, atau memodifikasi motif semeru dengan model tambahan motif lainnya. “Tapi akhirnya mereka sudah mengerti dan bisa menerimanya karena itulah motif buatan saya,” tambahnya.

Kecintaan pada seni batik akhirnya membuat Dayu mengambil satu langkah besar untuk menjual restorannya tahun 2004 dan mulai mengolah batik. Suatu saat ketika sedang pulang ke kampung halaman sang suami di Belanda, hatinya pun langsung tertarik dengan sebuah desain baju poncho. “Dari situ mulai kepikiran untuk membuat baju poncho dari batik,” tukasnya.

Memberdayakan masyarakat sekitar
Setelah mendapatkan model yang diinginkan, Dayu lantas terpikir untuk mulai memberdayakan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk membantunya menjahit. “Saya ajak mereka untuk berwirausaha kecil-kecilan dengan menjahit model baju poncho yang saya inginkan,” bebernya. Untuk mendapatkan hasil baju poncho batik yang diinginkan, Dayu pun harus rela untuk membongkar baju-baju contoh agar polanya sesuai dengan aslinya.

Bahan-bahan baju batik yang dibuat seringkali menyisakan potongan-potongan kain, atau yang disebutnya limbah batik. Atas inspirasi dari suaminya, Dayu pun memanfaatkan limbah batik ini untuk memodifikasi poncho buatannya. Ia menggunakan teknik bolak-balik di bagian dalam dan luar bajunya.

Untuk menghasilkan kreasi yang benar-benar beda, Dayu lebih suka membuat baju batik dengan menggunakan kain lawasan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan warna yang unik. Hanya saja, ia kerap terkendala menemukan batik lawasan yang benar-benar sesuai keinginannya. Akhirnya ia pun mencoba “melawaskan” sendiri kain tersebut dengan berbagai cara. “Awalnya pakai bahan kimia, tapi akhirnya saya menemukan cara lain dengan mencucinya menggunakan campuran daun mangga dan deterjen,” ujar perempuan yang sering mencari inspirasi dari majalah-majalah mode ini.

Dayu mengaku butuh waktu yang cukup lama untuk membuat sebuah baju batik lawasan bergaya bolak-balik ini. Selain butuh waktu untuk memberi efek lawas, ia pun butuh waktu lama untuk mengombinasikan warna-warnanya, serta berkreasi dengan berbagai model dan warna maupun teknik penjahitannya. “Makanya dari semua baju saya, tidak ada dua jenis baju yang sama, satu baju hanya punya satu ukuran dan satu jenis,” bebernya.

Modal nekat
Dayu bisa dibilang hanya bermodal nekat. Baju poncho kreasinya pun awalnya hanya dijual kepada teman-teman atau saudaranya. Namun minat yang semakin luas mendorong Dayu untuk memasarkannya lebih luas. “Dengan modal 20 juta rupiah dari suami, saya nekat jualan di pameran Adiwastra tahun 2008 di Jakarta dengan nama Batik Ijen Lawasan,” kenangnya.

Tak disangka, batik buatannya ini ternyata laku keras di pameran tersebut, dan terjual 300 potong. Hal ini semakin menambah kepercayaan dirinya untuk terus memasarkan batiknya. Berbekal keunikan batik, model baju, serta teknik penjahitan yang rapi, beberapa kali ia sempat bekerjasama dengan desainer Anne Avantie untuk mendesain busana dengan batik lawasan.

Meski tak memiliki toko sendiri untuk menjual baju-bajunya, Dayu mendapatkan tawaran untuk menjual produk Batik Ijen Lawasan di Alun-Alun Grand Indonesia, Debenhams, serta pameran-pameran besar lainnya di Jakarta. Kini untuk setiap pameran, ia bisa menjual sekitar 500-600 potong baju, dan keuntungan yang diraupnya dari beberapa department store yang menjual produknya bisa berkisar antara Rp 20 juta per bulan.

Sampai saat ini meski sudah terbilang sukses membesarkan label Batik Ijen Lawasan, Dayu masih tetap menghadapi kendala, di antaranya adalah masalah pekerja. “Pekerja saya adalah ibu rumah tangga, sehingga tidak bisa bekerja full-time. Selain itu mental bekerjanya pun masih kurang, dan kurang percaya diri bahwa mereka mampu untuk membuat sesuatu yang bagus,” tambahnya.

Untuk semakin menyemangati dirinya dalam berbisnis, Dayu selalu berpedoman pada keyakinannya untuk berani berekspresi, berani mencoba, dan melangkah. “Dan jangan lupa untuk tetap berani bermimpi untuk sukses,” pungkas Dayu.

Kamis, 01 Desember 2011

Batik Nusantara Kebanggaan Bangsa

Batik Muyas - Selamat hari batik, Indonesia! Sudah satu tahun berlalu sejak UNESCO mengukuhkan batik tulis Indonesia sebagai salah satu dari budaya tak benda warisan manusia (Intangible Cultural Heritage of Humanity). Sudah bertambahkah kecintaan kita akan batik Indonesia? Sudah bertambahkah pengetahuan kita mengenai batik Indonesia? :D

Postingan kami kali ini akan membahas mengenai beragam corak batik dari Sabang sampai Merauke. Semoga bisa menjadi tambahan pengetahuan teman-teman semua!

Sumatera


Batik Aceh

Motif batik Aceh rata-rata menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani seperti merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Warna-warna berani pada batik Aceh inilah yang menjadi ciri khas batik Aceh.

Motif-motif pada batik Aceh umumnya melambangkan falsafah hidup masyarakatnya. Motif Pintu Aceh misalnya, menunjukkan ukuran tinggi pintu yang rendah. Kenyataannya, rumah adat Aceh memang berpintu rendah, namun di dalamnya memiliki ruangan yang lapang. Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat. Motif tersebut mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan.

Selain motif-motif tersebut juga terdapat beragam motif dan corak khas Aceh yang indah dari batik Aceh, antara lain Pintu Aceh, Bungong Jeumpa, Awan Meucanek, Pucok Reubong, dan lain-lain.

Batik Jambi

Berbeda dengan batik Jawa yang menggunakan potongan-potongan kain panjang, batik Jambi biasanya datang dalam bentuk jubah longgar, sarung, atau sebagai selendang/syal. Warna khas yang biasa dijumpai pada batik Jambi adalah merah, biru, hitam, dan kuning. Motifnya pada umumnya diambil dari alam, seperti tumbuhan, hewan, dan aktivitas sehari-hari warga Jambi. Motif batik Jambi yang terkenal antara lain adalah motif kapal sanggat, burung kuau, durian pecah, merak ngeram, dan tampok manggis.

Berikut ini adalah motif-motif Batik Jambi yang beraneka ragam. Kamu suka yang mana?



Batik Bengkulu

Motif batik khas Bengkulu, konon, merupakan sebuah adopsi campuran dari motif kaligrafi Jambi dengan Cirebon. Adopsi itu membentuk sebuah desain batik khas Bengkulu. Batik khas Bengkulu secara umum terdiri dari dua jenis. Pertama adalah batik Besurek dengan motif khasnya berupa tulisan kaligrafi. Dan kedua adalah batik Pei Ka Ga Nga atau disebut juga dengan batik Ka Ga Nga yang memiliki motif berupa tulisan asli masyarakat Rejang Lebong. Beberapa motif dasar dari batik Besurek antara lain: motif kaligrafi (diambil dari huruf-huruf kaligrafi. Untuk batik Besurek modern, biasanya kaligrafinya tidak bermakna); motif bunga rafflesia; motif burung kuau (bergambar burung yang terbuat dari rangkaian huruf-huruf kaligrafi); motif relung paku; dan motif rembulan.

Berikut ini beberapa motif batik Besurek:


Batik Riau

Di Riau, konon ada batik Selerang yang sempat begitu terkenal pada tahun 1990-an namun sayangnya kabarnya saat ini sudah menghilang. Selain itu, ada pula yang namanya batik Tabir. Batik Tabir yang dibuat berdasarkan sistem tulis dan tolek ini warna-warnanya terang dan cerah, seperti merah, kuning, hijau. Corak dan motifnya antara lain adalah bunga bintang, sosou, cempaka, dan kenduduk.

Ini adalah beberapa motif dari batik Tabir Riau:


Batik Padang

Di Padang, batiknya yang terkenal bernama batik tanah liek/tanah liat. Dinamakan demikian karena dalam proses pewarnaannya, batik ini dicelupkan ke dalam tanah liat. Namun, seiring dengan permintaan pasar, batik tanah liek ini tidak hanya berwarna cokelat saja. Batik ini pada akhirnya juga diwarnai menggunakan sumber-sumber pewarna alam lainnya. Sebut saja seperti kulit jengkol, kulit rambutan, gambir, kulit mahoni, dan lain-lain. Bahannya pun ada yang terbuat dari katun ataupun sutera. Motifnya juga bermacam-macam antara lain tumbuhan merambat atau akar berdaun, keluk daun pakis, pucuk rebung, dan lain-lain.

Ini dia beberapa motif dari batik Tanah Liek:


Batik Lampung

Mungkin lebih banyak orang mengenal Lampung dari kain tenun tapis-nya. Tapi jangan salah, Lampung juga memiliki batik dengan corak tersendiri. Batik ini lahir melalui proses panjang yang dilakukan oleh Andriand Damiri Sangadjie, seorang budayawan, bersama kawan-kawannya. Motif batik Lampung yang paling terkenal dan sering menjadi rebutan kolektor asing adalah motif perahu dan “pohon kehidupan”.

Ini adalah beberapa contoh motif dari batik Lampung:


Jawa


Batik Jawa Barat

Mungkin hanya sedikit yang tahu bahwa daerah Jawa Barat memiliki motif batik yang sungguh kaya. Ketua Yayasan Batik Jawa Barat baru-baru ini mengatakan bahwa Jawa Barat memiliki 200 motif batik yang model dan coraknya sesuai dengan daerah asalnya. Masing-masing daerah tersebut memiliki motif unik tersendiri, seperti di Bogor terdapat motif kota hujan, bunga bangkai, dan kujang kijang yang menggambarkan Bogor sebagai kota hujan. Dikatakan pula bahwa daerah Cirebon memiliki corak batik yang paling banyak.

Berikut ini adalah beberapa motif batik dari daerah Jawa Barat:

Batik Indramayu
Untuk lebih lengkapnya mengenai 143 motif batik Indramayu beserta sejarahnya dapat melihatnya di: http://www.batikpaoman.com/motif.htm

Batik Bogor

Batik Cirebon


Batik Garut


Batik Jawa Tengah

Ini adalah beberapa motif batik dari daerah Jawa Tengah:
Batik Semarang
Diproduksi para pengrajin di Kampung Batik, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen, Semarang, batik Semarang juga menawarkan beragam motif yang khas dibanding motif-motif batik dari daerah Jawa Tengah lainnya. Pada umumnya batik Semarang berwarna dasar oranye kemerahan karena mendapat pengaruh dari China dan Eropa. Selain itu, motif dasar batik Semarang banyak dipengaruhi budaya China yang pada umumnya banyak menampilkan motif fauna yang lebih menonjol daripada flora. Misalnya merak, kupu-kupu, jago, cendrawasih, burung phoenix, dan sebagainya. Adapun motif Semarang yang menonjolkan ikon kota Semarang seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, Burung Kuntul, Wisma Perdamaian, dan Gereja Blenduk.
Beberapa motif dari batik Semarang:

Sumber: http://www.batiksemarang16.net/
Batik Solo
Kota Solo memang merupakan salah satu tempat wisata belanja kain batik terkenal di Indonesia. Di sini banyak sekali terdapat sentra kain batik, yang tersohor antara lain kawasan Kampung Batik Laweyan dan kawasan Kampung Wisata Batik Kauman. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya yang terkenal antara lain “Sidomukti” dan “Sidoluruh”. Batik Solo memiliki warna dominan cokelat soga kekuningan.
Beberapa motif dari batik Solo:

Motif Sidomukti – Agar selalu mukti, berkecukupan, motif ini biasanya digunakan saat upacara Panggih Pengantin
Batik Yogyakarta
Di Yogyakarta khususnya, warna batik tradisional adalah biru-hitam, serta soga cokelat dan putih dari pewarna alam. Biru-hitam diambil dari daun tanaman indigofera yang disebut juga nila atau tom yang difermentasi. Sementara warna soga atau cokelat diambil dari campuran kulit pohon tinggi warna merah, kulit pohon jambal warna merah cokelat, dan kayu tegeran warna kuning. Karakter motif batik Yogya adalah tegas, formal, sedikit kaku, dan patuh pada pakem. Konon, karakter ini berhubungan dengan keraton Yogya yang anti-kolonial.
Beberapa motif dari batik Yogyakarta:

Batik Pekalongan
Perjumpaan masyarakat Pekalongan, Jawa Tengah, dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada masa lalu telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik di sini. Beberapa jenis motif batik pengaruh berbagai negara itu kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu adalah batik Jlamprang diilhami India dan Arab, batik Encim dan Klangenan dipengaruhi peranakan Cina, batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai yang tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang. Warna cerah dan motif beragam membuat batik Pekalongan maju pesat. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta, batik Pekalongan terlihat lebih dinamis lantaran permainan motif yang lebih bebas. Media kainnya pun bermacam-macam. Tidak hanya katun dan kaos, sutera juga menjadi andalan batik Pekalongan saat bersaing di luar negeri. Motif Jlamprang, Sekarjagat, atau motif khas lainnya, menjadi berkelas ketika dituangkan dalam bahan baku sutera.
Beberapa motif batik Pekalongan:

Motif Jlamprang


Referensi:
http://www.yousaytoo.com/tentang-keunikan-motif-batik-jambi/225226
http://www.jambiexplorer.com/content/thefabriques.htm
http://batikindonesia.info/2003/11/23/warna-warna-berani-batik-aceh/
http://seraimanis.com/products/1/0/Batik-Tabir-Sutra/
http://www.melvacraft.com/gallery11.html
http://www.lampungprov.go.id/?link=dtl&id=1343
http://putra-lampung.blogspot.com/2008/07/batik-lampung-bukan-sembagi.html
http://www.facebook.com/group.php?gid=55789753828
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/seni-budaya/10/03/29/108683-ada-lebih-dari-200-motif-batik-di-jawa-barat
http://www.batiktradisiku.com/
http://batikmahkota-crb.com/
http://embassyofindonesia.it/
http://www.batikindramayu.com/
http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/05/04/29/106238/
http://www.batiksemarang16.net/
http://solobatik.athost.net/
http://berita.liputan6.com/liputanpilihan/200910/246143/Batik.Khazanah.Budaya.Nusantara

Jumat, 28 Oktober 2011

Peluang Usaha: Romi tetap bertahan walau dihantam krisis (2)

Kecintaan pada budaya lokal membuat Romi Oktabirawa, pemilik Wirokuto Batik, jatuh hati pada dunia batik. Dengan sentuhan kreativitasnya, ia memproduksi produk batik pekalongan yang kini sudah terkenal hingga mancanegara. Lihat saja, Romi rutin ekspor batik ke Jepang dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan.

Bermula dari decak kagum melihat kekayaan budaya nasional membuat Romi Oktabirawa tertarik untuk terjun ke usaha yang berkaitan dengan seni membatik. Berkat kekaguman itu pula, Romi mampu jadi eksportir batik.

Niat menceburkan diri dalam dunia batik itu terkabul setelah ia menyelesaikan studi ilmu syariah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dengan modal Rp 6 juta, pada 1996, Romi mendirikan bengkel batik bersama tiga pembatik Pekalongan. Bengkel batik itu berdiri di tempat kelahirannya di Desa Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Ia memberi nama bengkel itu Wirokuto, yang dalam bahasa Indonesia berarti wiro itu karya, dan kuto itu kota. Dengan begitu kata Wirokuto berarti batik bikinan orang kota.

Pemberian nama sesuai dengan target pasar Romi, yakni para penyuka batik yang tinggal di kota-kota besar. Itulah sebabnya, Romi berusaha membuat batik dengan desain berbeda dari karya pembatik pada umumnya.

Romi mengaku, salah satu kesuksesan dia berbisnis batik karena berani membuat terobosan desain yang berbeda itu. "Semangat to be different dalam berkreasi batik menjadi semangat saya," kata pria yang sudah biasa mendapat penghargaan itu.

Pertama kali memproduksi, Romi hanya menggarap pasar Pekalongan saja. Tapi pada tahun 2000-an, Romi berhasil menembus pasar Jakarta. "Saat itulah saya bertemu Menteri Perdagangan dan mengajak saya memperkenalkan batik pekalongan," terang Romi.

Ajakan dari Menteri Perdagangan itu membuat Romi menjadi sering keliling berbagai daerah guna memperkenalkan batik pekalongan. Dia juga sering menjadi pembicara seminar yang berkaitan dengan batik. "Jadinya, saya biasa bolak-balik Jakarta, Solo, dan Yogyakarta," katanya

Karena populer, Romi dipercaya Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan sebagai ketua penyelenggara Festival Batik Pekalongan pada 2005. Dalam festival itulah Romi membuat terobosan baru. Ia bersama perajin batik dari Pekalongan berhasil memecahkan rekor dunia membatik terpanjang sejagat yang tercatat dalam The Guiness World of Record.

Rekor itu pecah karena kurang dari sehari, ia bersama pembatik membatik kain sepanjang 1.147 meter. "Event itu dicatat dunia," kata pria kelahiran Pekalongan, 30 Oktober 1973 itu.

Sejak itu nama Romi semakin melambung, tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Undangan untuk memperkenalkan batik di luar negeri antre di meja kerjanya. Dari batik itu pula dia mendapat penghargaan berupa Seal of Excellence for Handicraft dari Unesco Asia Pasifik pada 2006 dan 2007.

Tak hanya itu, tahun 2006 juga Romi membawa pulang penghargaan dari Asosiasi Promosi dan Pengembangan Kerajinan ASEAN (AHPADA). Di dalam negeri Romi menyabet penghargaan Kreasi Cipta Kriya Nusantara dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada 2006 juga.

Kepopuleran Romi itu merembet ke bisnis batiknya. Pertemuannya dengan banyak orang membuat dia akrab dengan pembeli batik dari dalam dan luar negeri. Dari sekian banyak pembeli, yang paling berkesan baginya adalah pembeli batik dari Jepang.

Peminat batik dari negeri Sakura itu mengajaknya belajar proses pewarnaan kimono di Jepang. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Romi berangkat ke Jepang dan belajar membubuhkan warna, motif, dan pola pada kimono.

Selesai belajar, Romi kembali ke Pekalongan dan menerapkan keahliannya itu, yakni membatik pada kimono yang kemudian diekspor ke Jepang. Hingga kini Romi rutin ekspor 300 potong kimono batik per bulan. "Saya memang fokus ekspor ke Jepang karena di sana permintaan tinggi," kata Romi.

Selain melayani pasar Jepang, Romi juga melayani pesanan batik di dalam negeri. Dalam sebulan Romi memproduksi 4.000 potong batik cap, dan 200 potong batik tulis. Jika harga sepotong batik dihargai Rp 100.000 saja, Romi tentu bisa mendulang omzet ratusan juta rupiah sebulan.

(Bersambung)

Sumber : http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1319790297/81284/Romi-tetap-bertahan-walau-dihantam-krisis-2-

Jumat, 21 Oktober 2011

Dian Kyriss, Kolektor 2.000 Kain Batik

SURABAYA, KOMPAS.com - Penasaran dengan harga kain batik yang mahal, membuat Dian Kyriss, belajar arti dan makna dari kain batik itu. Selanjutnya, ketika tahu batik ternyata memiliki makna dan filosofi tinggi, Dian menjatuhkan pilihan untuk mengoleksinya dengan kekhususan kain batik tua.

Ketika ditemui di rumahnya yang asri di kawasan Graha Family Surabaya, Dian Kyriss sedang asyik menata tumpukan kain-kain batik di sebuah ruangan khusus. "Sebenarnya tiap hari sudah tertata rapi. Tapi sesekali waktu saya bongkar untuk saya angin-anginkan agar tidak lembab," jelas istri dari ekspatriat John Kyriss asal Jerman itu.

Di ruangan khusus itu, Dian menempatkan sekitar 2.000 potong kain batik dari berbagai daerah. Ada yang ditumpuk rapi di lima lemari kayu dan kaca berukuran besar dengan model kuno, ada pula yang digulung dalam gulungan khusus untuk batik. Beberapa bahkan ada yang dipajang layaknya jemuran kain.

Padahal di ruangan itu, tertutup dan berpendingin ruangan. Bersama dengan koleksi guci-guci kuno dan berbagai jenis souvenir khas dari berbagai daerah yang juga tampak kuno, membuat batik-batik itu seperti berada di museum atau galeri khusus barang kuno.

Memang, batik-batik yang dikoleksi ibu dua anak itu adalah batik-batik kuno. "Saya sengaja memilih batik yang kuno-kuno karena memiliki nilai sejarah lebih. Dibandingkan dengan batik yang sekarang," jelas Dian.

Jenisnya bermacam-macam. Mulai dari batik Sidoarjo, Jogja, Solo, Pekalongan, Tasikmalaya, Lasem, Kalimantan, hingga Sumatera, Dian memilikinya. Sedangkan untuk yang tua-nya, Dian mengaku memilih batik yang dimiliki warga-warga di sekitaran kampung batik di daerah-daerah itu. Yang paling tua, Dian menunjukkan kain batik berwarna hijau yang dijereng di sudut ruangan berukuran 2 meter x 1 meter.

"Ini paling tua. Usianya sekitar 150 tahun, saya dapatkan di kampung Jetis Sidoarjo. Milik keluarga pembuat batik jaman dulu, yang menemukan batik itu di tumpukan barang mbah buyutnya," jelas Dian.

Tanpa bersedia menyebut nama, Dian mengisahkan, pemilik batik itu adalah pembuat pabrik jaman dulu di Jetis. Kemudian tutup dan hingga tahun 2007 lalu, saat cucu dan cucu buyutnya akan kembali membuka usaha batik, kain itu ditemukan. "Saat saya bertemu mereka, dan mereka menceritakan riwayat kain batik itu, saya beranikan untuk beli. Harganya lumayan tinggi, tapi saya puas," ungkap Dian tanpa menyebut angka.

Sejak saat itulah, Dian mulai jatuh cinta untuk mengoleksi batik tua. Selain dari Jetis, Sidoarjo, Dian juga berhasil mendapatkan kain batik Jogja dari seorang nenek di Ponorogo, tempat asalnya. Batik Jogja itu diberikan seorang nenek, tetangganya begitu saja, dengan syarat, batik itu harus dijaga dan tidak digunakan untuk hal-hal yang mengandung mistis.

Kain batik motif parang dengan warna cokelat susu itu, disebut si nenek adalah warisan dari orangtuanya yang diberikan saat dia menikah. "Jadi berapa usia pastinya belum tahu. Nenek ini meninggal tahun 2009 lalu, di usia 89 tahun. Tentunya kalau dia menikah usia 20 tahun, kain ini sudah berusia lebih dari 50 tahun," ungkap Dian.

Selain dua batik itu, kain batik koleksi Dian rata-rata batik buatan tahun 1950-an hingga tahun 1970-an. Untuk mendapatkannya, Dian rela berkeliling masuk ke kampung-kampung. Biasanya dia datang ke kampung pembuat batik. Kemudian mencari home industry yang sudah lama. Atau bertanya siapa orang-orang tua di daerah kampung itu yang suka menyimpan batik.

"Kadang ada pula kain batik kuno yang saya dapatkan bekas. Saya tetap mau ambil, ada kain batik bekas dipakai sholat oleh pemiliknya yang sudah meninggal. Bekas itu terlihat dari adanya bagian kain yang sobek atau sudah lusuh," cerita Dian.

Sedangkan untuk batik Sumatera, Dian mengaku mendapatkannya di Palembang. Batik itu tampil denga motif gajah, yang biasa ada di Lampung. Tapi ternyata pembuatnya adalah orang Jawa yang bertransmigrasi di daerah perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan di tahun 1970an. Di daerah transmigrasi itu, mereka juga membatik dengan menggunakan motif khas daerah mereka tinggal, yaitu gajah.

"Jadi siapa bilang, batik hanya ada di Jawa, daerah lain juga ada. Saya juga menemukan batik di Bali dan Kalimantan Selatan, meski belum menemukan yang usianya lebih dari 20 tahun," lanjut Dian.

Dengan koleksinya itu, Dian berencana untuk akan terus merawatnya hingga batas waktu yang tidak terbatas. Meski banyak yang menawar untuk membei, Dian mengaku tidak akan melepasnya. "Ada yang menawar puluhan juta per potong. Saya tolak. Karena apa yang saya simpan ini, saya sebut sebagai kegiatan penyelamatan untuk batik tua," tandas Dian.

Sumber dan Foto : http://regional.kompas.com/read/2011/10/19/09314961/Dian.Kyriss.Kolektor.2.000.Kain.Batik

Baju Pengantin Warisan & Kain Batik Desain Ulang

Wednesday, 19 October 2011
Desainer asal Yogyakarta, Afif Syakur, dipilih membuat replika batik tulis semen raja pada pernikahan putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, dengan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara.

Pernikahan putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, GRAj Nurastuti Wijareni yang sekarang bergelar GKR Bendara dengan Achmad Ubaidillah yang mendapat gelar KPH Yudanegara disebut-sebut sebagai pernikahan paling akbar di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.Pada prosesi pernikahan yang digelar pada 16-19 Oktober ini disiapkan 9 kereta kencana untuk upacara arak-arakan atau lazim juga disebut kirab pengantin.

Tradisi kirab pengantin ini merupakan tradisi pernikahan zaman Sultan Hamengku Buwono VII (1877 - 1920).Ketika itu kedua pengantin akan diarak dari Keraton Yogyakarta menuju Kepatihan (Kompleks Kantor Gubernur) menggunakan kereta Kanjeng Kyai Jong Wiyat.Inilah prosesi yang menjadi simbol perkenalan kedua pengantin kepada masyarakat Yogyakarta. Prosesi kirab pengantin ini sebelumnya tidak dilakukan oleh ketiga putri Sultan sebelumnya.Karena itu, momen ini terbilang langka dan menjadi wujud pelestarian budaya Yogyakarta.Tak hanya itu, momen tersebut diharapkan menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Aura pernikahan zaman Sultan Hamengku Buwono (HB) VII juga terpancar dari busana pengantin yang dikenakan keduanya.Kedua mempelai menggunakan busana ala kerajaan Sultan HB VII dipadu dengan bawahan kain batik motif semen raja.Batik ini sudah turun-temurun dikenakan dalam upacara pernikahan di lingkungan keraton sejak masa pemerintahan Sultan HBVII. Batik asli motif ini tersimpan rapi di salah satu tempat di keraton.Adapun batik yang dipakai kedua mempelai merupakan hasil desain ulang pembatik sekaligus desainer Afif Syakur.Batik tersebut digunakan pada saat berdandan basahanatau paes ageng.

"Motif batik ini merupakan motif batik klasik khas Yogyakarta yang memiliki makna doa agar si pemakai memiliki keharmonisan dalam hidup dan kebaikan budi pekerti hingga akhir hayat,"ujar Afif di sela-sela acara fitting busana pengantin di Keraton Kilen,Yogyakarta. Menurut Afif,untuk bisa mendesain ulang motif batik sama persis dengan aslinya, membutuhkan waktu kurang lebih 9 bulan.Hal itu karena Afif harus benar-benar mengikuti pakem yang berlaku pada motif batik itu.

"Jujur saja ini adalah tantangan bagi saya karena di balik setiap motif batik itu,pasti ada maknanya.Apalagi ini batik tradisi kerajaan yang harus benar-benar diperhatikan segala detailnya,"kata Afif. Motif batik semen rajayang ditulis dalam kain sepanjang 2,5 x 4,5 meter ini sarat corak flora dan fauna yang menggambarkan makna seseorang yang mulia dan memiliki budi pekerti luhur serta prinsip hidup seseorang yang lahir dari tunas.Motif ini juga bercerita tentang fase kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal.

Desainer yang pernah menjadi Ketua Jogja Fashion Week 2011 ini membuat kain batik motif semen raja sebanyak 4 helai.Dua dikenakan oleh sepasang mempelai dan dua lainnya digunakan untuk kain cadangan.Batik tersebut berwarna biru dipadu dengan serbuk emas prada yang ditempelkan di batik. Adapun riasan dipercayakan kepada Tienuk Riefki yang membawa 18 perias yang siap mendandani seluruh keluarga serta panitia pernikahan.Tienuk tidak hanya bertanggung jawab pada riasan,juga perhiasan yang dikenakan kedua mempelai.

"Kedua mempelai akan mengenakan perhiasan warisan turun-temurun kerajaan sejak masa pemerintahan Sultan HB VII.Bisa dikatakan, ini adalah perhiasan keramat Keraton Yogyakarta," ucap Tienuk saat mempersiapkan segala perlengkapan rias pengantin di Keraton Kilen, Yogyakarta,Jumat (14/10). Pada prosesi upacara adat panggih,kirab,dan resepsi, pengantin wanita mengenakan perhiasan keraton yang disebut rojo keputren,mulai cundhuk menthul,pethat gunungan, penthung,subang royok, sangsangan sungsum,gelang kono,hingga slepe.Sementara, pengantin pria menggunakan pethat menthul,sumping ron mangkoro,dan karset.

Selama menjalani ritual adat menjelang hingga hari H pernikahan,kedua mempelai dirias dengan berbagai macam model,antara lain rias pengantin khas Yogyakarta paes ageng (saat upacara panggih),paes ageng jangan menirdipadu kebaya merah marun (saat kirab),dan paes ageng jangan menirdipadu kebaya warna hitam blenggen burdiran(saat resepsi). Sementara,pengantin pria menggunakan busana sikepan burdiranwarna hitam.

Prosesi adat pernikahan keraton terdiri atas upacara siraman,midodareni,plangkahan, ngabekten, ijab kabul, resepsi,hingga berbagai upacara adat lainnya.

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/436796/

Napoleon Bonaparte Pakai Batik?

Batik Muyas - (KOMPAS.com) Pasti Anda sudah sering ke Ancol Taman Impian yang terletak di utara Jakarta. Namun, pernahkan Anda mampir dan melihat karya-karya seni di Pasar Seni Ancol?

Nah, saat Ancol Art Festival, beragam karya seni bisa Anda lihat. Anda dapat menyaksikan berbagai seni, termasuk seni dalam mengungkapkan ide-ide kreatif pada obyek kanvas ataupun kayu.

Apa yang Anda suka? Melihat lukisan-lukisan indah dengan gambar-gambar unik atau ukiran-ukiran pada kayu yang dibentuk gemulai? De-Jabo, misalnya, pelukis ini telah menggeluti profesinya sejak 1985. Karya seni lukisnya terinspirasi dari legenda-legenda yang sudah ada, tetapi ia buat berbeda.

Salah satunya, lihat saja lukisan tentang Napoleon Bonaparte, pahlawan revolusi Perancis. Ia menambahkan ornamen batik dan wayang pada prajurit perang dengan sangat pas tanpa mengurangi nilai sejarahnya.

"Cara seniman Indonesia bersaing dengan seniman asing adalah dengan memasukkan ornamen-ornamen khas indonesia, misalnya tokoh wayang, batik, dan sebagainya. Serta sesorang harus total dengan karyanya, dan buatlah mood Anda sendiri dalam bekerja karena orang sukses tahu kapan ia bekerja, kapan ia berhenti," ungkapnya ketika ditanya bagaimana strategi bersaing dalam industri seni dan budaya.

Hingga kini pembeli karya seninya pun telah mencapai mancanegara, seperti Jepang dan Perancis. Nilainya pun antara Rp 75 juta dan Rp 150 juta rupiah. Pembuatannya pun tak terbilang cepat dan mudah. Pembuatan satu lukisan rata-rata 3 hingga 6 bulan.

Begitu pula dengan seni pahat pada obyek kayu yang dilakukan oleh Pak Nato asal Belora, Jawa Tengah. Karya seni pahatnya ini telah dipasarkan di seluruh Indonesia, India, hingga Eropa, seperti Inggris dan Perancis.

Ternyata obyek kayu pohon bahan karya seninya telah terbentuk secara alami. Ia tinggal merancang ide untuk menambahkan pahatan agar lebih menarik.

"Ide pahatan selanjutnya datang dari Pak Nato sendiri, sedangkan pemahatnya adalah pekerja seni di galeri Pak Nato. Kisaran harganya mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 200 juta. Karya seni pahat seharga Rp 200 juta itu disebabkan bentuk obyek kayunya telah terbentuk sempurna dari alam, 20 persen kreasi pahatan manusia, makanya lebih mahal," kata Christin, karyawan galeri Pak Nato. Dari karya seniman-seniman di atas Anda dapat menyadari bahwa sebuah karya seni memiliki nilai tersendiri bagi penikmatnya. Untuk menghasilkan sebuah karya seni, bukanlah hal yang mudah dan instan. Diperlukan ketekunan dan kreativitas untuk membentuk karya seni menjadi barang berharga.

Ancol Art Festival ini akan berlangsung dari tanggal 14 hingga 23 Oktober 2011 di Pasar Seni Ancol. Tahun ini, Ancol Art Festival menampilkan tema "Yogyakarta". Anda dapat menemukan kuliner dan seni Yogyakarta selama acara Ancol Art Festival berlangsung.

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2011/10/21/18041867/Napoleon.Bonaparte.Pakai.Batik

Kamis, 06 Oktober 2011

Kenalkan Tren Kerudung Indonesia Lewat Scarf Batik

Batik Muyas - Bandung, Sebagai salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, potensi Indonesia menjadi kiblat fesyen muslimah sangat terbuka. Salah satu fesyen desainer di Bandung Irna Mutiara melirik celah tersebut. Kerudung dipilih menjadi tren di kalangan muslimah di dunia.

"Bisa dibilang kita negara yang muslimahnya termasuk banyak. Tapi kok belum punya kerudung yang khas, sementara di Indonesia banyak banget yang pakai kerudung," tutur Irna kepada detikbandung.

Irna kemudian memutar otak untuk mewujudkan keinginannya membuat kerudung khas Indonesia. Hasilnya ia memutuskan untuk membuat kerudung motif batik. Tentu saja, karena batik sudah menjadi warisan budaya dunia dan sangat mewakili Indonesia.

Keanekaragaman jenis batik yang ada di Indonesia cukup menginspirasi Irna. Dari sekian banyak motif, yang dipilih Irna saat ini adalah motif batik Jabar, seperti batik khas Garut dan Tasikmalaya.

"Tapi tidak menutup kemungkinan nanti ada corak batik dari NTB, atau motif khas daerah lainnya. Saya melihat potensi apa saja yang bisa diaplikasikan pada kerudung buatan saya," terang Irna kepada detikbandung.

Gayung bersambut, mimpi Irna untuk membawa tren kerudung Indonesia ke luar negeri tercapai. Kerudung batiknya laris diminati para muslimah di berbagai negara, salah satunya Malaysia.

"Mudah untuk menawarkan ke luar (negeri). Tapi kalau di Indonesia sendiri kan tren harus mencoba memakainya. Kalau bagus orang-orang mau pakai," terang Irna.

Memakai merek Ina Scarf, Irna bertekad untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen muslimah.

"Ina itu artinya Indonesia. Jadi Ina Scarf itu kerudungnya Indonesia," jelasnya.

Bahan kerudung batik buatan Irna menggunakan katun viskos. Bahan tersebut memang cocok dibuat kerudung dan tidak membuat pemakainya kegerahan.

Kerudung batik ini cocok dipadukan dengan pakaian polos yang warnanya disesuaikan dengan motif batik.

(avi/bbn)

Sumber : http://bandung.detik.com/read/2011/10/06/090456/1737926/686/kenalkan-tren-kerudung-indonesia-lewat-scarf-batik

Cinta Batik Indonesia

PENYANYI mungil asal Australia, Lenka Kripac, menyempatkan diri menjumpai wartawan beberapa jam sebelum konsernya diselenggarakan kemarin (5/10
Bertempat di Velpa Kafe Gandaria City, perempuan 33 tahun itu menjawab berbagai pertanyaan. Malamnya, dia menggelar pertunjukan keduanya di Indonesia dalam balutan acara Lenka Live in Concert di Skeenoo Hall, Gandaria City, Jakarta Selatan. Lenka sudah cukup akrab dengan Indonesia. Dia pernah dua kali berlibur ke Bali. Saat makan, menu yang diminta adalah gado-gado. "Saya sudah tiba di Jakarta tadi malam (Selasa malam, Red). Ya, saya makan gado-gado. juga, soto ayam," katanya antusias. Saat Lenka berbicara, bola matanya terlihat berbinar, menujukkan semangatnya.

Penyanyi dan penulis lagu yang tenar dengan Trouble is a Friend itu terlihat imut. Rambut pendeknya berhias bando. Dia mengenakan mini dress batik. "Saya cinta batik. Sudah lama saya suka batik. Sejak SMA. Bahkan, dulu ada guru yang mengajari saya membatik," bebernya. Kemarin, sebelum menghadiri konferensi pers itu, Lenka pergi ke butik batik terlebih. Dia membeli beberapa potong baju dan satu di antaranya langsung dia kenakan. Perempuan yang menguasai alat musik piano dan trompet tersebut juga memiliki seragam batik pramugari maskapai Garuda Indonesia. "Saya beli seragamnya. Kan ada yang batik," lanjutnya.Lenka menjadi fenomena setelah album indie pertamanya, The Show, sukses di pasaran. Karena kesuksesan itu, dia telah melakukan tur keliling dunia serta tampil di beberapa festival besar. Dia juga pernah tampil secara langsung di Conan O"Brien, Late Night Show. Kini dia sudah meluncurkan album kedua, yaitu Two. Di album kedua itu, dia berkolaborasi dengan beberapa musisi seperti David Kosten dan Guy Sigsworth.

 "Album kedua saya ini musiknya lebih bervariasi. Lebih banyak musik elektroniknya. Lebih nge-beat. Asyik deh kalau buat dance," katanya.  Sebenyak 2.700 tiket konser yang dipromotori oleh MP Enter dan Untitled Entertainment habis terjual. Kapasitas Skeeno Hall memang tidak begitu besar. Ketika tiket konsernya terjual habis, Lenka girang. "Oh, really. Yay. Thank you," katanya sambil mengangkat dua tangannya.  Selain menyanyikan lagu dari album terbaru, Lenka akan membawakan lagu-lagi di album pertama. "Nanti dengarkan saja. Saya akan menyanyikan 16 lagu," imbuhnya. Perempuan yang juga jago akting tersebut tidak tampil sendiri. Dia perform dengan empat pemain musik. (jan/ayi)

Sumber : http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=98457

Yang Muda Mulai Melirik, Batik Sarimbit Banyak Dicari

TIDAK ada yang mengelak, jika saat ini, hampir semua orang mengenakan batik. Tua, muda, hingga anak-anak, banyak ditemui yang mengenakan pakaian batik. Banyak yang belanja kain dan pakaian batik.
Masyarakat berbondong-bondong membeli batik tak hanya untuk dikenakan di kantor, atau acara-acara formal, tapi ada yang dipakai untuk sekadar santai di rumah.  Petang, tak menyurutkan semangat untuk melihat-lihat baju-baju batik yang terpajang di sebuah toko batik di kawasan Malioboro, Batik Surya. Ada bermacam-macam motif yang ditawarkan, dengan beraneka warna dan model yang menarik.

Ya, saat ini batik tak hanya didominasi oleh warna cokelat dan hitam. Namun juga menampilkan warna cerah yang berani, seperti merah, ungu, hijau, bahkan kuning keemasan. Dilihat dari modelnya, sangat beragam, mulai dari kemeja, dress cantik, hingga batik sarimbit (pasangan).

"Kalau bicara perkembangan batik, saat ini berkembangnya sangat pesat. Apalagi saat ada kabar bahwa batik diklaim oleh negara tetangga, warga Indonesia seolah baru menyadari bahwa batik merupakan warisan adi luhung bangsa in," kata Suryadi Suryadinata, pengusaha penjual batik di kawasan Malioboro.

Terlebih lagi setelah diakui sebagai warisan budaya dunia, menurut pengamatan Suryadi Suryadinata, semua orang tak segan mengenakan batik. "Bahkan saat ini anak muda banyak yang berbatik, meski juga dipadukan dengan jeans. Toh kesan casual juga lebih terlihat," tandasnya saat ditemui, kemarin (5/10).

Dirasakan oleh Suryadi, penjualan batik tak lagi didominasi oleh orang tua. Tetapi sekarang, banyak anak muda yang mencari batik. Dengan begitu, industri batik semakin menggeliat. Dibarengi dengan trend warna batik memunculkan warna yang cerah, semakin menambah minat anak muda mengenakan batik. "Model baju batik juga lebih modern dengan mengikuti trend fashion pada umumnya," ujarnya.

Tentang jenis batik yang banyak dicari, menurut Suryadi Suryadinata, adalah batik sarimbit (pasangan). Tak hanya untuk pasangan suami istri, tetapi masyarakat juga menginginkan adanya keseragaman mulai dari ayah, ibu, dan anaknya. Dengan demikian, maka harus ada motif dan warna yang bisa masuk untuk semua usia. Dan disinilah peran kreativitas diperlukan.

"Tidak gampang membujuk anak muda mengenakan batik, apalagi dulu warnanya hanya cokelat dan hitam saja. Tetapi sekarang, corak, model dan warnanya lebih beragam, karena adanya inovasi baik dari pembatik maupun pengguna batik itu sendiri," bebernya.

Momen ini lah yang harus ditangkap dan dipertahankan. "Saya rasa, moment inilah yang mesti dipertahankan, jangan sampai minat mengenakan batik luntur, "tutur Suryadi yang juga menjabat sebagai Ketua Pengusaha Malioboro Jogjakarta ini.
Suryadi beranggapan bahwa naiknya minat masyarakat terhadap batik, juga mesti dibarengi dengan inovasi dan kreasi. Tak hanya pada modelnya, tapi juga corak atau motif, namun tetap tidak meninggalkan pakem yang sudah ada. Karena, jika tak begitu, dikhawatirkan batik ditinggalkan begitu saja.

"Saat ini hingga kedepan, saya optimistis bahwa prospek batik di Jogja sangat bagus, apalagi saat ini masyarakat nusantara dan mancanegara sudah mengenal Jogja sebagai kota batik. Jadi saat berada di Jogja, belum mantab rasanya jika belum membeli batik. Terpenting adalah kreasi dan inovasi agar batik tetap eksis kedepannya," papar lelaki berkacamata ini.
Suryadi, mulai menekuni bisnis penjualan kain dan baju batik sejak lima tahun yang lalu. Awalnya, Suryadi menjual produk fashion umum. Namun, kemudian mulai melirik usaha batik karena dirinya memang menyukai batik. Dalam keseharian, dirinya tak segan mengenakan batik, meski hanya untuk bersantai di rumah.

Bagi Suryadi Suryadinata, batik memiliki keunikan, apalagi jika mengingat proses pembuatan batik yang cukup lama. Butuh ketelatenan untuk menghasilkan selembar kain batik, dan itulah yang menggugahnya untuk ikut serta memasarkan batik melalui usahanya.

"Saya memang suka pakai batik, seperti sekarang ini misalnya. Dari situ, saya berpikir kenapa tidak menjual produk batik saja," ungkapnya.
Akhirnya dia mengubah konsep lebih spesifik, dan fokus pada penjualan batik saja. "Untuk kain batiknya, saya tak hanya ambil dari Jogja, tapi juga batik Cirebon, Pekalongan, dan lainnya," paparnya. Sedangkan untuk model baju, ada tim kreatif sendiri yang bertugas menampilkan model baju yang berkesan modern meski menggunakan kain batik.(*)

Sumber : http://www.radarjogja.co.id/berita/utama/22477-yang-muda-mulai-melirik-batik-sarimbit-banyak-dicari.html

Open Panel

Informasi Produk

  • Bahan Batik Seragam
  • Model Seragam Batik Pria
  • Model Seragam Batik Wanita
  • Seragam Batik Eksklusif
  • Batik Klasik Yogyakarta
  • Batik Indonesia