SURABAYA, KOMPAS.com - Penasaran dengan harga kain batik yang mahal, membuat Dian Kyriss, belajar arti dan makna dari kain batik itu. Selanjutnya, ketika tahu batik ternyata memiliki makna dan filosofi tinggi, Dian menjatuhkan pilihan untuk mengoleksinya dengan kekhususan kain batik tua.
Ketika ditemui di rumahnya yang asri di kawasan Graha Family Surabaya, Dian Kyriss sedang asyik menata tumpukan kain-kain batik di sebuah ruangan khusus. "Sebenarnya tiap hari sudah tertata rapi. Tapi sesekali waktu saya bongkar untuk saya angin-anginkan agar tidak lembab," jelas istri dari ekspatriat John Kyriss asal Jerman itu.
Di ruangan khusus itu, Dian menempatkan sekitar 2.000 potong kain batik dari berbagai daerah. Ada yang ditumpuk rapi di lima lemari kayu dan kaca berukuran besar dengan model kuno, ada pula yang digulung dalam gulungan khusus untuk batik. Beberapa bahkan ada yang dipajang layaknya jemuran kain.
Padahal di ruangan itu, tertutup dan berpendingin ruangan. Bersama dengan koleksi guci-guci kuno dan berbagai jenis souvenir khas dari berbagai daerah yang juga tampak kuno, membuat batik-batik itu seperti berada di museum atau galeri khusus barang kuno.
Memang, batik-batik yang dikoleksi ibu dua anak itu adalah batik-batik kuno. "Saya sengaja memilih batik yang kuno-kuno karena memiliki nilai sejarah lebih. Dibandingkan dengan batik yang sekarang," jelas Dian.
Jenisnya bermacam-macam. Mulai dari batik Sidoarjo, Jogja, Solo, Pekalongan, Tasikmalaya, Lasem, Kalimantan, hingga Sumatera, Dian memilikinya. Sedangkan untuk yang tua-nya, Dian mengaku memilih batik yang dimiliki warga-warga di sekitaran kampung batik di daerah-daerah itu. Yang paling tua, Dian menunjukkan kain batik berwarna hijau yang dijereng di sudut ruangan berukuran 2 meter x 1 meter.
"Ini paling tua. Usianya sekitar 150 tahun, saya dapatkan di kampung Jetis Sidoarjo. Milik keluarga pembuat batik jaman dulu, yang menemukan batik itu di tumpukan barang mbah buyutnya," jelas Dian.
Tanpa bersedia menyebut nama, Dian mengisahkan, pemilik batik itu adalah pembuat pabrik jaman dulu di Jetis. Kemudian tutup dan hingga tahun 2007 lalu, saat cucu dan cucu buyutnya akan kembali membuka usaha batik, kain itu ditemukan. "Saat saya bertemu mereka, dan mereka menceritakan riwayat kain batik itu, saya beranikan untuk beli. Harganya lumayan tinggi, tapi saya puas," ungkap Dian tanpa menyebut angka.
Sejak saat itulah, Dian mulai jatuh cinta untuk mengoleksi batik tua. Selain dari Jetis, Sidoarjo, Dian juga berhasil mendapatkan kain batik Jogja dari seorang nenek di Ponorogo, tempat asalnya. Batik Jogja itu diberikan seorang nenek, tetangganya begitu saja, dengan syarat, batik itu harus dijaga dan tidak digunakan untuk hal-hal yang mengandung mistis.
Kain batik motif parang dengan warna cokelat susu itu, disebut si nenek adalah warisan dari orangtuanya yang diberikan saat dia menikah. "Jadi berapa usia pastinya belum tahu. Nenek ini meninggal tahun 2009 lalu, di usia 89 tahun. Tentunya kalau dia menikah usia 20 tahun, kain ini sudah berusia lebih dari 50 tahun," ungkap Dian.
Selain dua batik itu, kain batik koleksi Dian rata-rata batik buatan tahun 1950-an hingga tahun 1970-an. Untuk mendapatkannya, Dian rela berkeliling masuk ke kampung-kampung. Biasanya dia datang ke kampung pembuat batik. Kemudian mencari home industry yang sudah lama. Atau bertanya siapa orang-orang tua di daerah kampung itu yang suka menyimpan batik.
"Kadang ada pula kain batik kuno yang saya dapatkan bekas. Saya tetap mau ambil, ada kain batik bekas dipakai sholat oleh pemiliknya yang sudah meninggal. Bekas itu terlihat dari adanya bagian kain yang sobek atau sudah lusuh," cerita Dian.
Sedangkan untuk batik Sumatera, Dian mengaku mendapatkannya di Palembang. Batik itu tampil denga motif gajah, yang biasa ada di Lampung. Tapi ternyata pembuatnya adalah orang Jawa yang bertransmigrasi di daerah perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan di tahun 1970an. Di daerah transmigrasi itu, mereka juga membatik dengan menggunakan motif khas daerah mereka tinggal, yaitu gajah.
"Jadi siapa bilang, batik hanya ada di Jawa, daerah lain juga ada. Saya juga menemukan batik di Bali dan Kalimantan Selatan, meski belum menemukan yang usianya lebih dari 20 tahun," lanjut Dian.
Dengan koleksinya itu, Dian berencana untuk akan terus merawatnya hingga batas waktu yang tidak terbatas. Meski banyak yang menawar untuk membei, Dian mengaku tidak akan melepasnya. "Ada yang menawar puluhan juta per potong. Saya tolak. Karena apa yang saya simpan ini, saya sebut sebagai kegiatan penyelamatan untuk batik tua," tandas Dian.
Sumber dan Foto : http://regional.kompas.com/read/2011/10/19/09314961/Dian.Kyriss.Kolektor.2.000.Kain.Batik
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri parang. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri parang. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Oktober 2011
Kamis, 15 April 2010
Batik Kontemporer Bergaya Abstrak
Batik Muyas - Okezone, Kita mengenal batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, dan Garut. Bagaimana dengan batik Bandung? Dibanding para sepupunya yang bergaya klasik, batik Bandung justru tampil kontemporer dengan gaya abstrak yang dicipta lewat puisi.
Pencipta Batik Bandung tersebut adalah Tetet Cahyati Popo Iskandar, putri dari mendiang seniman dan maestro lukis kenamaan RH Popo Iskandar. Darah seni sang ayah rupanya mengalir kental di nadi Tetet Cahyati. Tidak hanya berkutat di seni lukis, justru pencetus batik abstrak kontemporer ini merupakan seniman multimedia yang secara bertahap mencipta batik dari larik puisi yang kemudian diterjemahkan ke dalam lukisan, lalu dicetak menjadi motif batik di atas sutra. Jenis batik baru yang kemudian dikenal sebagai batik Bandung khas kota kembang.
Aom Kusman, presenter yang dulu terkenal dengan kuis ”Siapa Dia”, juga mengapresiasi batik Bandung besutan Tetet Popo Iskandar. ”Ini adalah langkah yang bagus dengan inovasi dari Ibu Tetet, batik akan menjadi lebih disukai anak muda. Mereka yang tidak menyukai batik klasik bisa memilih batik abstrak kontemporer ini,” komentarnya, yang mengharapkan batik Bandung bisa berkembang layaknya batik Garut dan Cirebon.
Tidak jauh berbeda, istri Wali Kota Bandung, Nani Dada Rosada, pun punya pendapat serupa. ”Saya berharap dengan lebih banyak acara seperti ini, batik Bandung bisa lebih banyak dikenal masyarakat, terutama dengan adanya sentra batik Bandung di Cigadung walaupun kini masih dalam proses pembangunan,” sebutnya. ”Dengan begitu, saya harap Bandung tidak hanya akan terkenal sebagai kota wisata belanja atau wisata kuliner, tapi juga kota batik,” sambungnya.
Batik kreasi Tetet memang berbeda dengan batik yang biasa ditemui. Tidak ada motif bunga, burung, atau ragam hias klasik seperti parang dan kawung yang sarat makna, melainkan berupa gambar abstrak dengan sapuan garis geometris berwarna cerah. Batik abstrak kontemporer karya Tetet tampil ekspresif, bebas, bahkan polos, yang menjadi bentuk murni ungkapan jiwanya.
”Inspirasinya dari puisi saya sendiri yang kemudian menjadi lukisan dan saya tuangkan ke dalam lukisan batik di atas sutra,” kata wanita yang memiliki gelar doktor di bidang ekonomi ini.
Melihat koleksi batik yang dihadirkan wanita yang akrab disapa Ceu Tetet ini, rasanya seperti melihat goresan polos anak-anak, jujur dan ceria. Namun, satu hal yang terlihat jelas, kekuatan batik abstrak kontemporer milik Tetet Popo Iskandar ini terletak pada warna dan coraknya yang menampilkan ciri khasnya. Karena itu ketika melihatnya, karya itu akan langsung dapat dikenali. Maka dari itu, tidak salah jika Tetet menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai Seniwati Multimedia terhadap Satu Tema.
Batik abstrak kontemporer besutan Tetet memang unik. Bagaimana tidak, kendati baru menggeluti seni batik abstrak kontemporer ini sejak 2007 lalu, batik kreasi Tetet belum ada yang menyamai.
Batik abstrak di atas kain sutra halus itu merupakan gebrakan seni lukis dan batik di Indonesia. Bahkan, ia sudah menggelar tiga kali fashion show batik karyanya yakni di Jakarta, Hong Kong, dan terakhir di Bandung. Bisa dikatakan, batik karya Tetet adalah jenis seni batik baru yang membuktikan bahwa batik pun bisa mengikuti perubahan zaman.
Mungkin terlihat tidak relevan, menyatukan puisi, lukisan, dan batik sekaligus. Namun, bagi Tetet, ketiganya tidak bisa dipisahkan.
Batik abstrak Tetet tercipta melalui beberapa dimensi media dan serangkaian aktivitas yang bertautan. Inspirasi awalnya tercurah lewat puisi, kemudian tertuang dalam kolaborasi warna lukisan dan terakhir dibuat dalam sebuah batik abstrak. Seperti puisi ”Cahaya Jiwa” yang kemudian dituangkan ke dalam lukisan dengan judul sama, selanjutnya lukisan itu menjadi motif ”cetak” bagi batik abstrak di atas kain sutra halus.
Saat ditanya mengenai ciri khas batik abstrak kontemporer buatannya, Tetet mengatakan bahwa koleksinya kebanyakan berwarna cerah dengan motif geometris yang merupakan replika lukisannya. ”Untuk motifnya memang lepas dari pakem batik tradisional dan lebih abstrak, tapi teknik membatiknya tetap sama,” sebutnya.
Batik karya Tetet memang lepas dari pakem batik klasik. Namun, saat dituangkan menjadi bentuk busana, koleksinya justru tampil sederhana, nyaris tanpa embellishment. Di hadapan Wali Kota Bandung Dada Rosada beserta istri dan segenap jajaran pegawai Pemerintah Kota Bandung, Tetet menghadirkan koleksi busana bergaris simpel. Tunik panjang berpadu legging, gaun sebatas lutut, ataupun terusan yang dihiasi detail obi. Kendatipun terbilang simpel, koleksi Tetet cukup menarik perhatian karena motif dan warna batiknya yang begitu menonjol.
”Cutting-nya memang sengaja dibuat sederhana karena saya ingin menonjolkan motif batiknya,” cetus Tetet, yang mengatakan dalam waktu dekat, dirinya bersama-sama dengan Kementerian Pariwisata berencana untuk berangkat ke Yunani dan Republik Ceko guna memamerkan koleksi kain batik abstrak kontemporer miliknya. ”Saya saat ini tengah menyiapkan sekitar 50 koleksi untuk dibawa ke Yunani dan Ceko pada bulan Juni,” ucapnya.
Bukan hanya menyiapkan koleksi batik baru untuk diperkenalkan di panggung internasional, Tetet juga mengembangkan lini batiknya dengan menghadirkan lini koleksi tas dan sepatu bermaterialkan batik abstrak kontemporer. ”Kalau untuk sepatu dan tas, desainnya dibuat oleh putri saya, Ilma Puspanusa,” katanya.
(tty)
| Batik Kontemporer |
Aom Kusman, presenter yang dulu terkenal dengan kuis ”Siapa Dia”, juga mengapresiasi batik Bandung besutan Tetet Popo Iskandar. ”Ini adalah langkah yang bagus dengan inovasi dari Ibu Tetet, batik akan menjadi lebih disukai anak muda. Mereka yang tidak menyukai batik klasik bisa memilih batik abstrak kontemporer ini,” komentarnya, yang mengharapkan batik Bandung bisa berkembang layaknya batik Garut dan Cirebon.
Tidak jauh berbeda, istri Wali Kota Bandung, Nani Dada Rosada, pun punya pendapat serupa. ”Saya berharap dengan lebih banyak acara seperti ini, batik Bandung bisa lebih banyak dikenal masyarakat, terutama dengan adanya sentra batik Bandung di Cigadung walaupun kini masih dalam proses pembangunan,” sebutnya. ”Dengan begitu, saya harap Bandung tidak hanya akan terkenal sebagai kota wisata belanja atau wisata kuliner, tapi juga kota batik,” sambungnya.
Batik kreasi Tetet memang berbeda dengan batik yang biasa ditemui. Tidak ada motif bunga, burung, atau ragam hias klasik seperti parang dan kawung yang sarat makna, melainkan berupa gambar abstrak dengan sapuan garis geometris berwarna cerah. Batik abstrak kontemporer karya Tetet tampil ekspresif, bebas, bahkan polos, yang menjadi bentuk murni ungkapan jiwanya.
”Inspirasinya dari puisi saya sendiri yang kemudian menjadi lukisan dan saya tuangkan ke dalam lukisan batik di atas sutra,” kata wanita yang memiliki gelar doktor di bidang ekonomi ini.
Melihat koleksi batik yang dihadirkan wanita yang akrab disapa Ceu Tetet ini, rasanya seperti melihat goresan polos anak-anak, jujur dan ceria. Namun, satu hal yang terlihat jelas, kekuatan batik abstrak kontemporer milik Tetet Popo Iskandar ini terletak pada warna dan coraknya yang menampilkan ciri khasnya. Karena itu ketika melihatnya, karya itu akan langsung dapat dikenali. Maka dari itu, tidak salah jika Tetet menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai Seniwati Multimedia terhadap Satu Tema.
Batik abstrak kontemporer besutan Tetet memang unik. Bagaimana tidak, kendati baru menggeluti seni batik abstrak kontemporer ini sejak 2007 lalu, batik kreasi Tetet belum ada yang menyamai.
Batik abstrak di atas kain sutra halus itu merupakan gebrakan seni lukis dan batik di Indonesia. Bahkan, ia sudah menggelar tiga kali fashion show batik karyanya yakni di Jakarta, Hong Kong, dan terakhir di Bandung. Bisa dikatakan, batik karya Tetet adalah jenis seni batik baru yang membuktikan bahwa batik pun bisa mengikuti perubahan zaman.
Mungkin terlihat tidak relevan, menyatukan puisi, lukisan, dan batik sekaligus. Namun, bagi Tetet, ketiganya tidak bisa dipisahkan.
Batik abstrak Tetet tercipta melalui beberapa dimensi media dan serangkaian aktivitas yang bertautan. Inspirasi awalnya tercurah lewat puisi, kemudian tertuang dalam kolaborasi warna lukisan dan terakhir dibuat dalam sebuah batik abstrak. Seperti puisi ”Cahaya Jiwa” yang kemudian dituangkan ke dalam lukisan dengan judul sama, selanjutnya lukisan itu menjadi motif ”cetak” bagi batik abstrak di atas kain sutra halus.
Saat ditanya mengenai ciri khas batik abstrak kontemporer buatannya, Tetet mengatakan bahwa koleksinya kebanyakan berwarna cerah dengan motif geometris yang merupakan replika lukisannya. ”Untuk motifnya memang lepas dari pakem batik tradisional dan lebih abstrak, tapi teknik membatiknya tetap sama,” sebutnya.
Batik karya Tetet memang lepas dari pakem batik klasik. Namun, saat dituangkan menjadi bentuk busana, koleksinya justru tampil sederhana, nyaris tanpa embellishment. Di hadapan Wali Kota Bandung Dada Rosada beserta istri dan segenap jajaran pegawai Pemerintah Kota Bandung, Tetet menghadirkan koleksi busana bergaris simpel. Tunik panjang berpadu legging, gaun sebatas lutut, ataupun terusan yang dihiasi detail obi. Kendatipun terbilang simpel, koleksi Tetet cukup menarik perhatian karena motif dan warna batiknya yang begitu menonjol.
”Cutting-nya memang sengaja dibuat sederhana karena saya ingin menonjolkan motif batiknya,” cetus Tetet, yang mengatakan dalam waktu dekat, dirinya bersama-sama dengan Kementerian Pariwisata berencana untuk berangkat ke Yunani dan Republik Ceko guna memamerkan koleksi kain batik abstrak kontemporer miliknya. ”Saya saat ini tengah menyiapkan sekitar 50 koleksi untuk dibawa ke Yunani dan Ceko pada bulan Juni,” ucapnya.
Bukan hanya menyiapkan koleksi batik baru untuk diperkenalkan di panggung internasional, Tetet juga mengembangkan lini batiknya dengan menghadirkan lini koleksi tas dan sepatu bermaterialkan batik abstrak kontemporer. ”Kalau untuk sepatu dan tas, desainnya dibuat oleh putri saya, Ilma Puspanusa,” katanya.
(tty)
Selasa, 04 Oktober 2011
Miss Universe Kenakan Batik di Final Puteri Indonesia
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Miss Universe 2011 Leila Lopes asal Angola mengagumi motif dan bahan batik. Ia berencana mengenakan kain batik bermotif parang kencono pada final Puteri Indonesia 7 Oktober 2011. Leila akan menyematkan mahkota kepada Puteri Indonesia yang baru.
"Sebelum datang, saya hanya tahu Indonesia adalah negara di Asia dan batik," kata Leila Lopes saat berada di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, Selasa 4 Oktober 2011.
Ia juga mengaku suka nasi goreng dan mi goreng sebagai makanan yang pernah ia makan saat berada di Indonesia. Ia datang ke Yogyakarta didampingi Nadine Alexandra, Puteri Indonesia 2010, dan Reza Kartikasari, Puteri Lingkungan 2010.
Setiba di Bandara Adi Sucipto ia langsung menikmati keindahan Candi Prambanan yang hanya berjarak enam kilometer dari bandara.
Leila merupakan perempuan keempat asal Afrika yang menjadi Miss Universe. Ia juga sangat senang karena saat ini tidak ada perbedaan asal dan warna kulit dalam ajang kontes kecantikan itu. "Saya senang sekali karena kalian sangat peduli dengan orang lain," kata dia.
Indonesia, menurut Mooryati Soedibyo, Ketua Yayasan Puteri Indonesia, merupakan negara pertama yang dikunjungi Miss Universe. Setelah itu ia akan mengunjungi tiga puluh negara yang menjadi tujuan kunjungannya.
"Dengan mendatangkan Miss Universe, nanti ia akan bicara banyak tentang Indonesia. Dari budaya, busana, pariwisata dan lain-lain," kata Mooryati.
Miss Universe merupakan sebuah kontes kecantikan yang awalnya merupakan cara dari salah satu perusahaan untuk mempromosikan produk pakaian renang pada 1952. Hingga sekarang ini terus berkembang dan diikuti para wanita cantik dari berbagai belahan dunia. Ajang ini merupakan ajang pertunjukan brain (kepintaran), beauty (kecantikan) dan behavior (tingkah laku). Pemenangnya akan diakui sebagai wanita tercantik sejagat.
Sheraton mengundang Miss Universe 2011 untuk mengunjungi Kota Yogyakarta. Leila Lopes, wanita cantik yang terpilih sebagai Miss Universe 2011, pun tiba di Yogyakarta pada 4 Oktober 2011 dan langsung menuju Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa sebagai sarana akomodasinya selama berada di Kota Gudeg ini.
MUH SYAIFULLAH
"Sebelum datang, saya hanya tahu Indonesia adalah negara di Asia dan batik," kata Leila Lopes saat berada di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, Selasa 4 Oktober 2011.
Ia juga mengaku suka nasi goreng dan mi goreng sebagai makanan yang pernah ia makan saat berada di Indonesia. Ia datang ke Yogyakarta didampingi Nadine Alexandra, Puteri Indonesia 2010, dan Reza Kartikasari, Puteri Lingkungan 2010.
Setiba di Bandara Adi Sucipto ia langsung menikmati keindahan Candi Prambanan yang hanya berjarak enam kilometer dari bandara.
Leila merupakan perempuan keempat asal Afrika yang menjadi Miss Universe. Ia juga sangat senang karena saat ini tidak ada perbedaan asal dan warna kulit dalam ajang kontes kecantikan itu. "Saya senang sekali karena kalian sangat peduli dengan orang lain," kata dia.
Indonesia, menurut Mooryati Soedibyo, Ketua Yayasan Puteri Indonesia, merupakan negara pertama yang dikunjungi Miss Universe. Setelah itu ia akan mengunjungi tiga puluh negara yang menjadi tujuan kunjungannya.
"Dengan mendatangkan Miss Universe, nanti ia akan bicara banyak tentang Indonesia. Dari budaya, busana, pariwisata dan lain-lain," kata Mooryati.
Miss Universe merupakan sebuah kontes kecantikan yang awalnya merupakan cara dari salah satu perusahaan untuk mempromosikan produk pakaian renang pada 1952. Hingga sekarang ini terus berkembang dan diikuti para wanita cantik dari berbagai belahan dunia. Ajang ini merupakan ajang pertunjukan brain (kepintaran), beauty (kecantikan) dan behavior (tingkah laku). Pemenangnya akan diakui sebagai wanita tercantik sejagat.
Sheraton mengundang Miss Universe 2011 untuk mengunjungi Kota Yogyakarta. Leila Lopes, wanita cantik yang terpilih sebagai Miss Universe 2011, pun tiba di Yogyakarta pada 4 Oktober 2011 dan langsung menuju Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa sebagai sarana akomodasinya selama berada di Kota Gudeg ini.
MUH SYAIFULLAH
Sumber : Tempointeraktif.Com
Jumat, 04 Maret 2011
Jarik: Dari Lahir Sampai Mati
Batik Muyas - Ketika mengikuti aktifitas para relawan melalui twitter, banyak permintaan jarik dari beberapa posko. Dari berbagai daerah bencana di Indonesia, hanya wilayah bencana di Yogya dan Jawa Tengah yang memasukkan jarik dalam daftar kebutuhan pengungsi.
Jarik dalam kehidupan masyarakat Jawa, ada dari lahir sampai mati. Ketika bayi lahir, jarik dugunakan sebagai alas tidur dan gendongan. Memang sekarang banyak yang menggunakan kain bedong yang lebih kecil untuk alas tidur sehingga bisa sering berganti dan jika dicuci lebih cepat kering. Namun masih banyak yang tetap menggunakan jarik karena lebih adem di badan si bayi. Gendongan bayi juga sudah tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk, ada yang untuk gendong miring, ada yang seperti ransel. Namun tak sedikit ibu-ibu yang nyaman menggunakan jarik sebagai gendongan karena bayi bisa meringkuk lebih nyaman dalam gendongan jarik. Selain itu walaupun sudah lama kita mengenal kimono, ibu-ibu yang barusaja melahirkan lebih menyukai memakai jarik supaya sikap tubuh terjaga dan mempercepat pemulihan. Di desa-desa, jarik juga digunakan sebagai basahan alias penutup tubuh perempuan dari dada kebawah ketika mandi di sungai.
Jarik adalah kain berukuran 2,5-1,1 meter atau 2,1-1,5 meter yang dibatik dengan berbagai motif seperti sidomukti, sidomulyo, sekar jagad, parang rusak, dan sebagainya. Tiap motif memiliki arti tersendiri disesuaikan dengan acara ketika jarik itu dikenakan dan status sosial penggunanya. Fungsi utama jarik adalah sebagai penutup tubuh bagian bawah. Makna jarik adalah aja gampang serik atau jangan mudah iri. Dengan memakai jarik, orang akan berhati-hati berjalan, tidak grusa grusu. Saat ini jarik digunakan sesuai dengan fungsi dan filosofinya hanya di acara mantenan Jawa dan acara keraton. Sedangkan jarik digunakan sesuai fungsinya saja masih banyak digunakan oleh simbah-simbah atau orang-orang tua tanpa memperhatikan makna motifnya. Jarik untuk simbah inilah yang banyak diminta oleh para relawan.
Jarik yang banyak dipakai simbah ini banyak dijual dipasar-pasar rakyat. Harganya murah, tidak sampai Rp 20.000. Saya pernah berbicara dengan seorang nenek di Yogya, yang katanya akan menggadaikan jariknya. Saya baru tahu jarik bisa digadaikan. Benarkah? Namun demikian tentu ada beberapa level harga jarik sesuai dengan kualitas kain dan proses pembuatannya. Jarik yang berupa batik tulis bisa dihargai Rp 400.000 per lembar.
Jarik juga digunakan untuk menutup hidup manusia. Jika orang Jawa meninggal, maka disiapkanlah jarik untuk menutup jenazah ketika dimandikan, menutup alas kasur jenazah setelah dimandikan dan menutup jenazah yang siap untuk dimakamkan.
Saya sendiri suka menggunakan jarik sebagai selimut karena adem dibadan. Jarik, hanya selembar kain batik, namun ada dari manusia Jawa lahir sampai mati.
http://burselfwoman.com/?p=1446
Jarik dalam kehidupan masyarakat Jawa, ada dari lahir sampai mati. Ketika bayi lahir, jarik dugunakan sebagai alas tidur dan gendongan. Memang sekarang banyak yang menggunakan kain bedong yang lebih kecil untuk alas tidur sehingga bisa sering berganti dan jika dicuci lebih cepat kering. Namun masih banyak yang tetap menggunakan jarik karena lebih adem di badan si bayi. Gendongan bayi juga sudah tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk, ada yang untuk gendong miring, ada yang seperti ransel. Namun tak sedikit ibu-ibu yang nyaman menggunakan jarik sebagai gendongan karena bayi bisa meringkuk lebih nyaman dalam gendongan jarik. Selain itu walaupun sudah lama kita mengenal kimono, ibu-ibu yang barusaja melahirkan lebih menyukai memakai jarik supaya sikap tubuh terjaga dan mempercepat pemulihan. Di desa-desa, jarik juga digunakan sebagai basahan alias penutup tubuh perempuan dari dada kebawah ketika mandi di sungai.
Jarik adalah kain berukuran 2,5-1,1 meter atau 2,1-1,5 meter yang dibatik dengan berbagai motif seperti sidomukti, sidomulyo, sekar jagad, parang rusak, dan sebagainya. Tiap motif memiliki arti tersendiri disesuaikan dengan acara ketika jarik itu dikenakan dan status sosial penggunanya. Fungsi utama jarik adalah sebagai penutup tubuh bagian bawah. Makna jarik adalah aja gampang serik atau jangan mudah iri. Dengan memakai jarik, orang akan berhati-hati berjalan, tidak grusa grusu. Saat ini jarik digunakan sesuai dengan fungsi dan filosofinya hanya di acara mantenan Jawa dan acara keraton. Sedangkan jarik digunakan sesuai fungsinya saja masih banyak digunakan oleh simbah-simbah atau orang-orang tua tanpa memperhatikan makna motifnya. Jarik untuk simbah inilah yang banyak diminta oleh para relawan.
Jarik yang banyak dipakai simbah ini banyak dijual dipasar-pasar rakyat. Harganya murah, tidak sampai Rp 20.000. Saya pernah berbicara dengan seorang nenek di Yogya, yang katanya akan menggadaikan jariknya. Saya baru tahu jarik bisa digadaikan. Benarkah? Namun demikian tentu ada beberapa level harga jarik sesuai dengan kualitas kain dan proses pembuatannya. Jarik yang berupa batik tulis bisa dihargai Rp 400.000 per lembar.
Jarik juga digunakan untuk menutup hidup manusia. Jika orang Jawa meninggal, maka disiapkanlah jarik untuk menutup jenazah ketika dimandikan, menutup alas kasur jenazah setelah dimandikan dan menutup jenazah yang siap untuk dimakamkan.
Saya sendiri suka menggunakan jarik sebagai selimut karena adem dibadan. Jarik, hanya selembar kain batik, namun ada dari manusia Jawa lahir sampai mati.
http://burselfwoman.com/?p=1446
Minggu, 01 Juli 2012
Parang Ceplok Wayang
Diskon 15% dari harga satuan setiap pemesanan minimal 1 kodi (20 ptg) untuk bahan seragam batik. Tetap GRATIS ongkos kirim se-Indonesia.
Detail Produk
Harga Produk : Rp. 235.000
Proses : Batik Cap Kombinasi Tulis
Kategori : Bahan Kemeja / Blus Batik
Bahan : Katun Misris
Ukuran Kain : 200 cm x 105 cm
Status : In Stock.
Detail Produk
Harga Produk : Rp. 235.000
Proses : Batik Cap Kombinasi Tulis
Kategori : Bahan Kemeja / Blus Batik
Bahan : Katun Misris
Ukuran Kain : 200 cm x 105 cm
Status : In Stock.
Langganan:
Postingan (Atom)






