Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Bahan Kain Batik. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Bahan Kain Batik. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juli 2012

Macam Jenis Motif Batik di Indonesia

Batik Tulis

Batik tulis yaitu batik yang dihasilkan dengan menggunakan alat canting tulis sebagai alat gambar. Pembuatan batik tulis dilakukan dengan melekatkan cairan malam (wax) pada permukaan kain (baca juga artikel mengenai 12 Langkah Menciptakan Kain Batik disini). Proses batik tulis merupakan proses paling rumit, halus, sekaligus paling lama dalam pengerjaannya, sehingga produksi kain batik tulis sangat terbatas dan lebih eksklusif.
Kain Batik Tulis lainnya »

Batik Cap

Batik Cap yaitu batik yang proses pembatikannya menggunakan canting cap. Cap ini dibuat dari beberapa lempengan tembaga yang membentuk corak pada salah satu permukaannya. Pembuatan canting cap dilakukan oleh orang yang memang ahli dalam bidang tersebut. Cara kerja canting cap ini sama dengan menggunakan stempel, hanya saja kita tidak menggunakan tinta sebagai jejak perintangnya, namun dengan cairan malam (wax). Proses pemalaman ini tidak mudah dilakukan. Untuk membuat 1 potong kain batik, dilakukan beberapa kali proses pemalaman tergantung jumlah warna yang diinginkan. Proses pemalaman ini akan diikuti dengan proses pelorodan, yakni proses melepaskan malam dari permukaan kain.
Kain Batik Cap lainnya »

Batik Cap Kombinasi Tulis

Selain proses batik tulis murni dan batik cap, saat ini para perajin batik juga banyak melakukan inovasi, yakni dengan mengombinasikan antara proses batik cap dengan batik tulis. Setelah sepotong kain melalui beberapa tahap selama pemalaman dengan canting cap, dan pewarnaan (mbabar), kain batik kembali ditulis malam (wax) dengan canting tangan untuk memperhalus motif. Proses ini kemudian dikenal sebagai proses batik cap kombinasi tulis. Batik jenis ini memang lebih eksklusif dari batik cap, namun tetap tidak se-eksklusif batik tulis jika dilihat dari tingkat kerumitan dan lama proses pengerjaannya.
Kain Batik Cap Tulis lainnya »

Syal Batik & Selendang Batik

Lengkapi event atau acara Anda dengan syal batik atau selendang batik dengan motif klasik khas Jogjakarta. Baik sebagai souvenir acara pernikahan, event perusahaan, seminar, dll. Anda dapat memilih s/d 5 motif selendang untuk setiap pemesanan. Khusus pelanggan yang berada di Indonesia, GRATIS ongkos kirim tetap berlaku untuk kota Jakarta, bandung, Semarang, Surabaya dan Denpasar.
Syal-Selendang Batik lainnya »

Seminar Kit & Souvenir

Syal-Selendang Batik lainnya »

Motif Batik Sogan

Batik Sogan adalah salah satu jenis batik di Indonesia yang bernuansa klasik dengan warna dominan variasi dari warna coklat. Dinamakan batik sogan karena pada awal mulanya, proses pewarnaan batik ini menggunakan pewarna alami yang diambil dari batang kayu pohon soga. Batik Sogan memang jenis batik yang identik dengan daerah keraton Jawa yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Keraton Surakarta Hadiningrat, motifnya pun biasanya mengikuti pakem motif-motif klasik keraton. Batik sogan yang klasik ini memang selalu banyak peminatnya dan langgeng tanpa mengenal musim, selalu ada pecinta jenis batik ini. Walaupun ada batik pesisiran yang lebih dinamis baik warna maupun motifnya yang kontemporer dan eksotis.
(Sumber : batikpekalongan.wordpress.com)
Motif Batik Sogan lainnya »

Motif Seragam Batik – Bahan Baju Batik

Pilih motif batik seragam Anda disini. Seluruh motif batik bertanda In Stock telah tersedia dalam jumlah banyak dan dan dapat langsung dijahit, sementara untuk motif batik bertanda Made by Order tidak tersedia dalam jumlah banyak namun dapat segera diproduksi kembali dengan jumlah minimal pemesanan tertentu. Sesuaikan warna dan motif batik yang Anda pilih dengan logo perusahaan atau instansi Anda, atau silakan hubungi kami untuk bantuan lebih lanjut :)
Bahan Seragam Batik lainnya »

Model Seragam Batik Pria – Hem & Kemeja

Kemeja Batik Seragam lainnya »

Model Seragam Batik Wanita – Dress & Blouse

Blus Batik Seragam lainnya »

Kamis, 01 Desember 2011

Batik Nusantara Kebanggaan Bangsa

Batik Muyas - Selamat hari batik, Indonesia! Sudah satu tahun berlalu sejak UNESCO mengukuhkan batik tulis Indonesia sebagai salah satu dari budaya tak benda warisan manusia (Intangible Cultural Heritage of Humanity). Sudah bertambahkah kecintaan kita akan batik Indonesia? Sudah bertambahkah pengetahuan kita mengenai batik Indonesia? :D

Postingan kami kali ini akan membahas mengenai beragam corak batik dari Sabang sampai Merauke. Semoga bisa menjadi tambahan pengetahuan teman-teman semua!

Sumatera


Batik Aceh

Motif batik Aceh rata-rata menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani seperti merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Warna-warna berani pada batik Aceh inilah yang menjadi ciri khas batik Aceh.

Motif-motif pada batik Aceh umumnya melambangkan falsafah hidup masyarakatnya. Motif Pintu Aceh misalnya, menunjukkan ukuran tinggi pintu yang rendah. Kenyataannya, rumah adat Aceh memang berpintu rendah, namun di dalamnya memiliki ruangan yang lapang. Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat. Motif tersebut mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan.

Selain motif-motif tersebut juga terdapat beragam motif dan corak khas Aceh yang indah dari batik Aceh, antara lain Pintu Aceh, Bungong Jeumpa, Awan Meucanek, Pucok Reubong, dan lain-lain.

Batik Jambi

Berbeda dengan batik Jawa yang menggunakan potongan-potongan kain panjang, batik Jambi biasanya datang dalam bentuk jubah longgar, sarung, atau sebagai selendang/syal. Warna khas yang biasa dijumpai pada batik Jambi adalah merah, biru, hitam, dan kuning. Motifnya pada umumnya diambil dari alam, seperti tumbuhan, hewan, dan aktivitas sehari-hari warga Jambi. Motif batik Jambi yang terkenal antara lain adalah motif kapal sanggat, burung kuau, durian pecah, merak ngeram, dan tampok manggis.

Berikut ini adalah motif-motif Batik Jambi yang beraneka ragam. Kamu suka yang mana?



Batik Bengkulu

Motif batik khas Bengkulu, konon, merupakan sebuah adopsi campuran dari motif kaligrafi Jambi dengan Cirebon. Adopsi itu membentuk sebuah desain batik khas Bengkulu. Batik khas Bengkulu secara umum terdiri dari dua jenis. Pertama adalah batik Besurek dengan motif khasnya berupa tulisan kaligrafi. Dan kedua adalah batik Pei Ka Ga Nga atau disebut juga dengan batik Ka Ga Nga yang memiliki motif berupa tulisan asli masyarakat Rejang Lebong. Beberapa motif dasar dari batik Besurek antara lain: motif kaligrafi (diambil dari huruf-huruf kaligrafi. Untuk batik Besurek modern, biasanya kaligrafinya tidak bermakna); motif bunga rafflesia; motif burung kuau (bergambar burung yang terbuat dari rangkaian huruf-huruf kaligrafi); motif relung paku; dan motif rembulan.

Berikut ini beberapa motif batik Besurek:


Batik Riau

Di Riau, konon ada batik Selerang yang sempat begitu terkenal pada tahun 1990-an namun sayangnya kabarnya saat ini sudah menghilang. Selain itu, ada pula yang namanya batik Tabir. Batik Tabir yang dibuat berdasarkan sistem tulis dan tolek ini warna-warnanya terang dan cerah, seperti merah, kuning, hijau. Corak dan motifnya antara lain adalah bunga bintang, sosou, cempaka, dan kenduduk.

Ini adalah beberapa motif dari batik Tabir Riau:


Batik Padang

Di Padang, batiknya yang terkenal bernama batik tanah liek/tanah liat. Dinamakan demikian karena dalam proses pewarnaannya, batik ini dicelupkan ke dalam tanah liat. Namun, seiring dengan permintaan pasar, batik tanah liek ini tidak hanya berwarna cokelat saja. Batik ini pada akhirnya juga diwarnai menggunakan sumber-sumber pewarna alam lainnya. Sebut saja seperti kulit jengkol, kulit rambutan, gambir, kulit mahoni, dan lain-lain. Bahannya pun ada yang terbuat dari katun ataupun sutera. Motifnya juga bermacam-macam antara lain tumbuhan merambat atau akar berdaun, keluk daun pakis, pucuk rebung, dan lain-lain.

Ini dia beberapa motif dari batik Tanah Liek:


Batik Lampung

Mungkin lebih banyak orang mengenal Lampung dari kain tenun tapis-nya. Tapi jangan salah, Lampung juga memiliki batik dengan corak tersendiri. Batik ini lahir melalui proses panjang yang dilakukan oleh Andriand Damiri Sangadjie, seorang budayawan, bersama kawan-kawannya. Motif batik Lampung yang paling terkenal dan sering menjadi rebutan kolektor asing adalah motif perahu dan “pohon kehidupan”.

Ini adalah beberapa contoh motif dari batik Lampung:


Jawa


Batik Jawa Barat

Mungkin hanya sedikit yang tahu bahwa daerah Jawa Barat memiliki motif batik yang sungguh kaya. Ketua Yayasan Batik Jawa Barat baru-baru ini mengatakan bahwa Jawa Barat memiliki 200 motif batik yang model dan coraknya sesuai dengan daerah asalnya. Masing-masing daerah tersebut memiliki motif unik tersendiri, seperti di Bogor terdapat motif kota hujan, bunga bangkai, dan kujang kijang yang menggambarkan Bogor sebagai kota hujan. Dikatakan pula bahwa daerah Cirebon memiliki corak batik yang paling banyak.

Berikut ini adalah beberapa motif batik dari daerah Jawa Barat:

Batik Indramayu
Untuk lebih lengkapnya mengenai 143 motif batik Indramayu beserta sejarahnya dapat melihatnya di: http://www.batikpaoman.com/motif.htm

Batik Bogor

Batik Cirebon


Batik Garut


Batik Jawa Tengah

Ini adalah beberapa motif batik dari daerah Jawa Tengah:
Batik Semarang
Diproduksi para pengrajin di Kampung Batik, Kelurahan Bubakan, Kecamatan Mijen, Semarang, batik Semarang juga menawarkan beragam motif yang khas dibanding motif-motif batik dari daerah Jawa Tengah lainnya. Pada umumnya batik Semarang berwarna dasar oranye kemerahan karena mendapat pengaruh dari China dan Eropa. Selain itu, motif dasar batik Semarang banyak dipengaruhi budaya China yang pada umumnya banyak menampilkan motif fauna yang lebih menonjol daripada flora. Misalnya merak, kupu-kupu, jago, cendrawasih, burung phoenix, dan sebagainya. Adapun motif Semarang yang menonjolkan ikon kota Semarang seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, Burung Kuntul, Wisma Perdamaian, dan Gereja Blenduk.
Beberapa motif dari batik Semarang:

Sumber: http://www.batiksemarang16.net/
Batik Solo
Kota Solo memang merupakan salah satu tempat wisata belanja kain batik terkenal di Indonesia. Di sini banyak sekali terdapat sentra kain batik, yang tersohor antara lain kawasan Kampung Batik Laweyan dan kawasan Kampung Wisata Batik Kauman. Batik Solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya batik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Polanya yang terkenal antara lain “Sidomukti” dan “Sidoluruh”. Batik Solo memiliki warna dominan cokelat soga kekuningan.
Beberapa motif dari batik Solo:

Motif Sidomukti – Agar selalu mukti, berkecukupan, motif ini biasanya digunakan saat upacara Panggih Pengantin
Batik Yogyakarta
Di Yogyakarta khususnya, warna batik tradisional adalah biru-hitam, serta soga cokelat dan putih dari pewarna alam. Biru-hitam diambil dari daun tanaman indigofera yang disebut juga nila atau tom yang difermentasi. Sementara warna soga atau cokelat diambil dari campuran kulit pohon tinggi warna merah, kulit pohon jambal warna merah cokelat, dan kayu tegeran warna kuning. Karakter motif batik Yogya adalah tegas, formal, sedikit kaku, dan patuh pada pakem. Konon, karakter ini berhubungan dengan keraton Yogya yang anti-kolonial.
Beberapa motif dari batik Yogyakarta:

Batik Pekalongan
Perjumpaan masyarakat Pekalongan, Jawa Tengah, dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada masa lalu telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik di sini. Beberapa jenis motif batik pengaruh berbagai negara itu kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu adalah batik Jlamprang diilhami India dan Arab, batik Encim dan Klangenan dipengaruhi peranakan Cina, batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai yang tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang. Warna cerah dan motif beragam membuat batik Pekalongan maju pesat. Berbeda dengan batik Solo dan Yogyakarta, batik Pekalongan terlihat lebih dinamis lantaran permainan motif yang lebih bebas. Media kainnya pun bermacam-macam. Tidak hanya katun dan kaos, sutera juga menjadi andalan batik Pekalongan saat bersaing di luar negeri. Motif Jlamprang, Sekarjagat, atau motif khas lainnya, menjadi berkelas ketika dituangkan dalam bahan baku sutera.
Beberapa motif batik Pekalongan:

Motif Jlamprang


Referensi:
http://www.yousaytoo.com/tentang-keunikan-motif-batik-jambi/225226
http://www.jambiexplorer.com/content/thefabriques.htm
http://batikindonesia.info/2003/11/23/warna-warna-berani-batik-aceh/
http://seraimanis.com/products/1/0/Batik-Tabir-Sutra/
http://www.melvacraft.com/gallery11.html
http://www.lampungprov.go.id/?link=dtl&id=1343
http://putra-lampung.blogspot.com/2008/07/batik-lampung-bukan-sembagi.html
http://www.facebook.com/group.php?gid=55789753828
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/seni-budaya/10/03/29/108683-ada-lebih-dari-200-motif-batik-di-jawa-barat
http://www.batiktradisiku.com/
http://batikmahkota-crb.com/
http://embassyofindonesia.it/
http://www.batikindramayu.com/
http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/05/04/29/106238/
http://www.batiksemarang16.net/
http://solobatik.athost.net/
http://berita.liputan6.com/liputanpilihan/200910/246143/Batik.Khazanah.Budaya.Nusantara

Kamis, 19 Januari 2012

Manjakan Turis Asing dengan Batik Tulis Berkualitas

Batik Muyas - MAKAN siang di penghujung tahun lalu dengan Presiden Direktur Philips Indonesia Robert Fletcher dan Philips Head of Communications Region Asia Pacific Arent Jan Hesselink memang meninggalkan kesan. Paling tidak buat buat saya dan beberapa rekan wartawan dari beberapa media terpilih. Apalagi, tatkala AJ, sapaan akrab Arent Jan Hesselink yang Wong Londo atau orang Belanda itu, berkomentar tentang motif kemeja batik yang dikenakan bosnya. "Motif batik itu apa ya?" begitu pertanyaan AJ yang pastinya tak berhasil mendapat jawaban pas dari kami.

Meski menangani wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, AJ lebih banyak tinggal di Singapura. Makanya, AJ mengaku belum memunyai pengetahuan mendalam soal batik.
Perlu adanya penjelasan soal motif batik tulis yang tertempel pada label yang disertakan di tiap lembar kain batik tulis. Menjadi lebih baik kalau penjelasan dibuat juga dalam Bahasa Inggris.

Hal sebaliknya, dialami Robert Fletcher. Ia sudah lima tahunan tinggal di Indonesia. "Saya memakai batik kalau ada pertemuan-pertemuan seperti ini," kata pria yang akrab dipanggil Rob tersebut.
Batik yang mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda dari UNESCO sejak 2009 silam adalah teknik pewarnaan kain menggunakan malam (semacam lilin) untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Khazanah internasional mengenal teknik ini sebagai wax resist dyeing.

Boleh dibilang, pengakuan UNESCO itu benar-benar membawa berkah. Catatan saat World Batik Summit 2011 di Jakarta Convention Center pada 28 September hingga 2 Oktober tahun lalu menunjukkan kalau penjualan batik terkait sektor pariwisata menembus angka Rp 1 triliun. Menteri Kebudayaan Pariwisata waktu itu, Jero Wacik, mengakui angka tersebut.

Namun, berangkat dari obrolan ringan di atas, banyak wisatawan asing alias turis bule masih belum banyak memiliki pengetahuan memadai soal batik. Dengan kata lain, acap, batik menjadi kawasan antah-berantah.

Paling simpel, bagai kebanyakan orang asing macam AJ, begitu beragam motif batik. Namun, mereka tak tahu, bahkan, nama, asal-usul, hingga orisinalitas pewarnaan.

Tak hanya itu, batik, bagi sementara kalangan turis mancanegara yang benar-benar awam, makin menjadi ruang teramat luas gara-gara kain bermotif batik atau yang lazim dikenal sebagai batik printing bermunculan di mana-mana. Dominasi industrialisasi, baik lokal maupun asing, membuat batik justru mendapat pesaing dari dunia pertekstilan. "Batik printing bukan batik," tegas pelaku usaha Batik Handayani asal Desa Beluk, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, T.S. Goenarto.

Cerita

Beragamnya motif batik memang berangkat dari kekayaan lokal. Biasanya, kekayaan berikut keanekaragaman yang dekat dengan para pembatik itu sendiri. Menurut Goenarto, beberapa motif batik tulis seperti Ganggang Kukup, Iwak Rowo, Teratai Jombor, Kipas Pandanaran, dan Jagad Mbogem, berasal dari lokasi pariwisata di kawasan Kecamatan Bayat.

Motif Iwak Rowo dan Teratai Jombor asal-muasalnya dari ikan dan teratai yang berada di Rawa Jombor. Rawa tersebut menjadi lokasi pariwisata setempat.

Hal sama juga terdapat pada motif Kipas Pandanaran. Pembatik melukiskan kebiasaan pedagang kipas yang menjajakan barang dagangannya di kompleks makam Ki Ageng Pandanaran, masih di Kecamatan Bayat.

Bayangkan, andai wisatawan mancanegara yang berniat membeli kain batik tersebut tidak memperoleh informasi memadai soal motif pada kain tersebut! Yang terjadi adalah kondisi bak membeli kucing dalam karung. Meski, kualitas kain dan pewarnaan batik tulis bersangkutan termasuk bagus.

Maka dari itulah, kebutuhan akan pentingnya sepotong informasi soal motif tersebut lama-kelamaan makin mendesak. "Turis asing memang suka bertanya soal kisah motif batik yang akan mereka beli," kata Direktur Rumah Batik dan Kerajinan Indonesia Pendopo Meutia Kumala dalam kesempatan wawancara beberapa waktu lalu.

Meutia, lebih lanjut, menyambut baik adanya sebentuk penjelasan yang tertempel pada label yang disertakan di tiap lembar kain batik tulis. Dengan cara itu, ada cerita yang bisa memberikan penjelasan kepada turis mencanegara, khususnya. Menjadi lebih baik kalau penjelasan dibuat juga dalam Bahasa Inggris. Sehingga, kolaborasi antara motif batik dengan cerita soal motif batik akan klop rasanya dengan pemeo "makin kenal makin makin sayang".

Selanjutnya, dalam pengamatan Meutia, turis asing juga memerlukan semacam jaminan soal orisinalitas pewarnaan batik. Menurutnya, bahkan sampai kini, tak cuma orang asing yang acap terkecoh pada tampilan warna batik. Pewarnaan batik dengan bahan alami seperti kulit mahoni, rempah-rempah, kulit buah manggis, dan lain sebagainya justru terlihat kusam dan tak bercahaya.

Sebaliknya, pewarnaan batik dengan bahan kimia menampilkan warna yang cenderung tampak cerah. "Masih banyak yang menganggap kalau yang tampilannya kusam justru tidak asli," kata Marketing Director Omnimedia Citraglobal Yenny N Petrus yang berkecimpung dalam bisnis suvenir, termasuk batik.
Untuk soal orisinalitas, batik dengan pewarnaan alami juga mesti lengkap dengan label jaminan. "Dengan begitu, tak hanya pembeli lokal, turis asing pun bisa mendapatkan kepastian mendapatkan barang yang asli dan berkualitas," demikian Yenny N Petrus.  

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/01/16/15433414/Manjakan.Turis.Asing.dengan.Batik.Tulis.Berkualitas

Jumat, 22 April 2011

Pewarna Alam Bikin Warna Batik Jadi Unik

Batik Muyas - KOMPAS.com - Proses pewarnaan kain batik umumnya dilakukan dengan menggunakan pewarna kimia. Namun kini semakin populer pula proses pewarnaan yang menggunakan bahan baku dari alam. Dengan menggunakan pewarna alam ini, proses pembuatan batik tentunya menjadi lebih ramah lingkungan.

Untuk memperkenalkan proses pewarnaan alam ini, Komunitas Klasik Indonesia mengadakan workshop "Ikat Celup dengan Pewarna Alam" di Museum Tekstil Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dalam workshop yang merupakan salah satu rangkaian program bertema "Dari Wanita untuk Karya dan Alam Indonesia" ini dijelaskan pula berbagai kelebihan dari zat pewarna alam.

Bahan pewarna alami umumnya berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti kayu, kulit kayu, akar, kulit akar, biji, kulit biji, daun, maupun bunga. Proses pewarnaan dengan menggunakan zat warna alam memang lebih rumit jika dibandingkan dengan menggunakan zat pewarna sintetis. Sebab, prosesnya harus dilakukan berulang kali untuk mendapatkan warna seperti yang diinginkan. Namun warna-warna yang dihasilkan memang cenderung menjadi lembut serta bersifat unik dan eksklusif. Karakteristik dari tumbuhan dan faktor lingkungan lah yang mempengaruhinya.

Masalahnya, tak semua bahan tekstil bisa diwarnai dengan zat pewarna alam. Bahan yang bisa digunakan adalah yang berasal dari serat alam seperti sutera, wol, dan kapas (katun). Sedangkan bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester atau nilon tidak memiliki afinitas, atau daya tarik, terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit diwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera umumnya memiliki afinitas paling baik terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.

Benny Gratha, volunteer Museum Tekstil Indonesia, lalu membeberkan pula tahap-tahap pewarnaan alam tersebut:

1. Mordant
Agar warna dapat menempel dengan baik, kain yang akan diwarnai harus di-mordant terlebih dahulu. Proses mirdant dilakukan dengan merendam bahan ke dalam garam-garam logam seperti tawas. Zar-zat mordant ini berfungsi untuk membentuk jembatan kimia antara zat warna alam dengan serat sehingga afinitas (daya tarik) zat warna meningkat terhadap serat, dan berguna untuk menghasilkan kerataan dan ketajaman warna yang baik. Sebelum dilakukan proses mordant, kain terlebih dahulu dicuci dan direndam dalam air sabun selama 12 jam, kemudian dibilas dan dikeringkan.

2. Ekstraksi dan pewarnaan
Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen-pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan, baik yang terdapat pada daun, batang, buah, bunga, biji, maupun akar. Proses pengambilan pigmen zat warna alam disebut proses ektraksi, dilakukan dengan cara merebus bahan dengan air.

3. Fiksasi
Fiksasi merupakan proses untuk memperkuat warna agar tidak luntur. Fiksasi dapat dilakukan dengan beberapa bahan seperti tawas, kapus, atau tanjung. Masing-masing bahan mempunyai karakteristik yang berbeda terhadap warna.

Dalam workshop ini, pewarnaan alam dikombinasikan dengan teknik ikat yang menghasilkan motif serta gradasi warna yang memikat. Ingin tahu bagaimana cara membuat motif ikat celup (tie dye)

Sumber : KOMPAS.com

Senin, 12 Desember 2011

Modal Nekat, Raup Untung dari Batik Lawasan

Batik Muyas - KOMPAS.com, Sebagai orang Bali, darah seni Dayu Jiwa nampaknya sudah mengalir sejak kecil. Namun sayangnya ia memutuskan untuk melanjutkan usaha keluarganya untuk mengurus restoran Hydepark Corner di Sanur. “Pada suatu ketika saya mulai tertarik dengan batik, karena ada teman saya dari Inggris yang menantang saya untuk kenal lebih jauh dengan batik,” tukas Dayu kepada Kompas Female, saat acara Katumbiri Expo di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (7/12/2011) lalu.

Dayu JiwaMerasa tertantang untuk mengenal batik asli, atas anjuran temannya Dayu lantas menuju ke desa Kerek di Jawa Timur pada tahun 2003. “Saya pergi sendirian, bermodal nekat untuk belajar membuat batik,” tukasnya. Nasib baik berpihak padanya, karena secara kebetulan ia bertemu dengan seorang pengrajin batik yang baik. Dalam waktu dua minggu, Dayu akhirnya menguasai teknik membatik dengan baik.

Sebagai orang Bali, Dayu pun berpikir untuk membuat kreasi batik tulis yang menonjolkan ciri khas Bali. “Sulit untuk membuat motif khas Bali, dan saya bingung karena semua motifnya sudah ada. Akhirnya saya pun memodifikasi motif yang sudah ada,” bebernya.

Dayu mengaku bahwa awalnya ia sempat mendapat pertentangan dari “guru-guru” batiknya karena motif batiknya dianggap menyalahi pakem yang ada. Dayu sendiri mengganggap bahwa aliran yang digunakannya adalah aliran surealisme, dimana ia memodifikasi motif naga yang sudah ada menjadi sedikit berbeda. Ia membuat motif naga itu tampil lebih panjang dan sedikit berbeda, atau memodifikasi motif semeru dengan model tambahan motif lainnya. “Tapi akhirnya mereka sudah mengerti dan bisa menerimanya karena itulah motif buatan saya,” tambahnya.

Kecintaan pada seni batik akhirnya membuat Dayu mengambil satu langkah besar untuk menjual restorannya tahun 2004 dan mulai mengolah batik. Suatu saat ketika sedang pulang ke kampung halaman sang suami di Belanda, hatinya pun langsung tertarik dengan sebuah desain baju poncho. “Dari situ mulai kepikiran untuk membuat baju poncho dari batik,” tukasnya.

Memberdayakan masyarakat sekitar
Setelah mendapatkan model yang diinginkan, Dayu lantas terpikir untuk mulai memberdayakan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk membantunya menjahit. “Saya ajak mereka untuk berwirausaha kecil-kecilan dengan menjahit model baju poncho yang saya inginkan,” bebernya. Untuk mendapatkan hasil baju poncho batik yang diinginkan, Dayu pun harus rela untuk membongkar baju-baju contoh agar polanya sesuai dengan aslinya.

Bahan-bahan baju batik yang dibuat seringkali menyisakan potongan-potongan kain, atau yang disebutnya limbah batik. Atas inspirasi dari suaminya, Dayu pun memanfaatkan limbah batik ini untuk memodifikasi poncho buatannya. Ia menggunakan teknik bolak-balik di bagian dalam dan luar bajunya.

Untuk menghasilkan kreasi yang benar-benar beda, Dayu lebih suka membuat baju batik dengan menggunakan kain lawasan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan warna yang unik. Hanya saja, ia kerap terkendala menemukan batik lawasan yang benar-benar sesuai keinginannya. Akhirnya ia pun mencoba “melawaskan” sendiri kain tersebut dengan berbagai cara. “Awalnya pakai bahan kimia, tapi akhirnya saya menemukan cara lain dengan mencucinya menggunakan campuran daun mangga dan deterjen,” ujar perempuan yang sering mencari inspirasi dari majalah-majalah mode ini.

Dayu mengaku butuh waktu yang cukup lama untuk membuat sebuah baju batik lawasan bergaya bolak-balik ini. Selain butuh waktu untuk memberi efek lawas, ia pun butuh waktu lama untuk mengombinasikan warna-warnanya, serta berkreasi dengan berbagai model dan warna maupun teknik penjahitannya. “Makanya dari semua baju saya, tidak ada dua jenis baju yang sama, satu baju hanya punya satu ukuran dan satu jenis,” bebernya.

Modal nekat
Dayu bisa dibilang hanya bermodal nekat. Baju poncho kreasinya pun awalnya hanya dijual kepada teman-teman atau saudaranya. Namun minat yang semakin luas mendorong Dayu untuk memasarkannya lebih luas. “Dengan modal 20 juta rupiah dari suami, saya nekat jualan di pameran Adiwastra tahun 2008 di Jakarta dengan nama Batik Ijen Lawasan,” kenangnya.

Tak disangka, batik buatannya ini ternyata laku keras di pameran tersebut, dan terjual 300 potong. Hal ini semakin menambah kepercayaan dirinya untuk terus memasarkan batiknya. Berbekal keunikan batik, model baju, serta teknik penjahitan yang rapi, beberapa kali ia sempat bekerjasama dengan desainer Anne Avantie untuk mendesain busana dengan batik lawasan.

Meski tak memiliki toko sendiri untuk menjual baju-bajunya, Dayu mendapatkan tawaran untuk menjual produk Batik Ijen Lawasan di Alun-Alun Grand Indonesia, Debenhams, serta pameran-pameran besar lainnya di Jakarta. Kini untuk setiap pameran, ia bisa menjual sekitar 500-600 potong baju, dan keuntungan yang diraupnya dari beberapa department store yang menjual produknya bisa berkisar antara Rp 20 juta per bulan.

Sampai saat ini meski sudah terbilang sukses membesarkan label Batik Ijen Lawasan, Dayu masih tetap menghadapi kendala, di antaranya adalah masalah pekerja. “Pekerja saya adalah ibu rumah tangga, sehingga tidak bisa bekerja full-time. Selain itu mental bekerjanya pun masih kurang, dan kurang percaya diri bahwa mereka mampu untuk membuat sesuatu yang bagus,” tambahnya.

Untuk semakin menyemangati dirinya dalam berbisnis, Dayu selalu berpedoman pada keyakinannya untuk berani berekspresi, berani mencoba, dan melangkah. “Dan jangan lupa untuk tetap berani bermimpi untuk sukses,” pungkas Dayu.

Kamis, 19 Januari 2012

BATIK PEWARNA ALAM: Eksotis dan Ramah Lingkungan

Kerusakan lingkungan yang kian parah ikut membangkitkan kesadaran untuk membuat produk ramah lingkungan. Salah satunya batik dengan pewarna alam. Warna alam yang lembut pada batik memancarkan pesona eksotis, ramah lingkungan dan memberi kesan ketimuran.

Dengan latar belakang itulah, Surosso menggarap batik warna alam di kawasan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta sejak 2005 lalu. Mode cutting asimetris dan desain pecah pola pun dilakukan oleh Suroso alias Rosso dengan Batik Warna Alam Rosso miliknya.

Produsen batik yang menggunakan bahan baku dari kulit kayu, daging kayu dan daun-daunan untuk dasar pewarnaan batiknya ini membuat busana siap pakai dengan teknik jumputan maupun batik cap. Hasilnya warna-warna natural seperti cokelat, kuning, pink pucat, hijau muda, abu-abu dan ungu tampil lebih elegan dengan sentuhan batik cap atau teknik pewarnaan alami.

"Agar warna tak mudah luntur, kami mengunci warna dengan tawas dan kapur," kata Suroso, yang juga merancang busana ready to wear. Untuk memberi aksen pada busana batik warna alam, Rosso memberi aksen lurik dari Pedan, Klaten. Dia juga memberikan detail origami, obi, aplikasi payet dan detail bervolume pada lengan maupun krah. Hasil rancangannya pun terlihat diperagakan pada acara Jogja Fashion Tendance dan Jakarta Fashion Week November 2011 lalu. "Untuk memberi nilai lebih pada batik warna alam, dia membuat desain baju dengan cutting yang unik dan aplikasi yang serasi," lanjut Rosso.

Hal tersebut juga dilakukan oleh Batik Mahkota Laweyan yang berlokasi di kawasan Kampung Batik Laweyan Solo. Namun gerai ini masih fokus memproduksi kain batik warna alam dan belum bermain di desain bajunya. "Kami menggunakan warna alam dari gambir, kayu tingi, indigo, serbuk tegeran dan kayu secang," kata Alpha Febella Priyatmono, sang pemilik.

Untuk menampilkan warna yang lebih cerah, sambungnya, dia membuat variasi warna dari bahan alam dan membubuhkan sedikit pewarna kimia pada motif. "Namun ada juga yang murni menggunakan warna alam, seperti batik warna alam dari kayu tingi, gambir dan indigo." Untuk motif, Batik Mahkota Laweyan mempertahankan motif klasik dan sebagian motif kontemporer.

Diakui Alpha, dia baru satu tahun merintis produksi batik warna alam, namun dia siap memberikan workshop dan wisata batik warna alam di Kampung Batik Laweyan pada tahun ini. "Saat ini sudah ada lima titik di Kampung Batik Laweyan yang mengerjakan batik warna alam, di antaranya Batik Pulau Jawa, Batik Lor Ing Pasar, Batik Catleya, Batik Aryu dan Batik Mahkota," jelas Alpha yang juga Koordinator Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan itu.

JIBI/SOLOPOS/Eri Maryana

Sumber : http://www.solopos.com/2012/lifestyle/belanja/batik-pewarna-alam-eksotis-dan-ramah-lingkungan-156965

Senin, 02 Juli 2012

Kain Batik Tulis Jogja Motif Semen Romo Latar Putih

Menurut Susanto cit Kudiya (2010), kain batik motif Semen Romo memiliki sembilan unsur, yang ornamen-ornamennya terdiri atas tumbuhan, meru, burung atau lar-laran dan binatang yang tersusun secara harmonis. Hal ini merupakan perlambangan atas kesuburan, sumber segala keberadaan dan pusat kekuasaan.
Sumber : netsains.com
Detail Produk
Harga Produk : Rp 495.000*
Jenis : Batik Tulis
Bahan : Katun Primisima
Kategori : Kain Batik
Ukuran Kain : 225 cm x 105 cm
Status : In Stock.
*) Gratis biaya pengiriman se-Indonesia.

Selasa, 04 Oktober 2011

Miss Universe Kenakan Batik di Final Puteri Indonesia

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Miss Universe 2011 Leila Lopes asal Angola mengagumi motif dan bahan batik. Ia berencana mengenakan kain batik bermotif parang kencono pada final Puteri Indonesia 7 Oktober 2011. Leila akan menyematkan mahkota kepada Puteri Indonesia yang baru.

"Sebelum datang, saya hanya tahu Indonesia adalah negara di Asia dan batik," kata Leila Lopes saat berada di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, Selasa 4 Oktober 2011.

Ia juga mengaku suka nasi goreng dan mi goreng sebagai makanan yang pernah ia makan saat berada di Indonesia. Ia datang ke Yogyakarta didampingi Nadine Alexandra, Puteri Indonesia 2010, dan Reza Kartikasari, Puteri Lingkungan 2010.

Setiba di Bandara Adi Sucipto ia langsung menikmati keindahan Candi Prambanan yang hanya berjarak enam kilometer dari bandara.

Leila merupakan perempuan keempat asal Afrika yang menjadi Miss Universe. Ia juga sangat senang karena saat ini tidak ada perbedaan asal dan warna kulit dalam ajang kontes kecantikan itu. "Saya senang sekali karena kalian sangat peduli dengan orang lain," kata dia.

Indonesia, menurut Mooryati Soedibyo, Ketua Yayasan Puteri Indonesia, merupakan negara pertama yang dikunjungi Miss Universe. Setelah itu ia akan mengunjungi tiga puluh negara yang menjadi tujuan kunjungannya.

"Dengan mendatangkan Miss Universe, nanti ia akan bicara banyak tentang Indonesia. Dari budaya, busana, pariwisata dan lain-lain," kata Mooryati.

Miss Universe merupakan sebuah kontes kecantikan yang awalnya merupakan cara dari salah satu perusahaan untuk mempromosikan produk pakaian renang pada 1952. Hingga sekarang ini terus berkembang dan diikuti para wanita cantik dari berbagai belahan dunia. Ajang ini merupakan ajang pertunjukan brain (kepintaran), beauty (kecantikan) dan behavior (tingkah laku). Pemenangnya akan diakui sebagai wanita tercantik sejagat.

Sheraton mengundang Miss Universe 2011 untuk mengunjungi Kota Yogyakarta. Leila Lopes, wanita cantik yang terpilih sebagai Miss Universe 2011, pun tiba di Yogyakarta pada 4 Oktober 2011 dan langsung menuju Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa sebagai sarana akomodasinya selama berada di Kota Gudeg ini.

MUH SYAIFULLAH

Minggu, 01 Juli 2012

Parang Ceplok Wayang

Diskon 15% dari harga satuan setiap pemesanan minimal 1 kodi (20 ptg) untuk bahan seragam batik. Tetap GRATIS ongkos kirim se-Indonesia.
Detail Produk

Harga Produk : Rp. 235.000
Proses : Batik Cap Kombinasi Tulis
Kategori : Bahan Kemeja / Blus Batik
Bahan : Katun Misris
Ukuran Kain : 200 cm x 105 cm
Status : In Stock.

Open Panel

Informasi Produk

  • Bahan Batik Seragam
  • Model Seragam Batik Pria
  • Model Seragam Batik Wanita
  • Seragam Batik Eksklusif
  • Batik Klasik Yogyakarta
  • Batik Indonesia